Pelindo III akan menyiapkan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya (Jawa Timur) untuk menyambut skema pelayaran berjadwal (freight liner) memakai kapal-kapal berukuran besar seperti 3.000 TEUs. Tahap awal, Pelindo III menambah kapasitas daya tampung terminal.
BUMN operator pelabuhan ini membangun Terminal Teluk Lamong di dekat Pelabuhan Tanjung Perak. Kapasitas Pelabuhan Tanjung Perak ditambah Teluk Lamong menjadi 4,2 juta TEUs.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelindo III, kata Edi, juga membangun kawasan industri dan pelabuhan bernama Internasional Java Integrated Industrial Port Estate (JIIPE). Pelabuhan dan kawasan industri di Gresik (Jawa Timur) ini juga dipakai mendukung konsep tol Laut Jokowi.
Pelindo III juga menyiapkan kedalaman dan pelebaran Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS), dari atau ke Pelabuhan Tanjung Perak. Kedalaman alur dari minus 9,5 meter diperdalam hingga minus 13 meter. Sementara lebar alur ditingkat dari 100 meter menjadi 150 meter. Proses untuk memperdalam dan memperlebar alur yang mampu melayani kapal ukuran 3.000 TEUs tersebut selesai pada Maret 2015.
"Lalu Maret 2015 kedalaman bisa minus 13 meter dan lebar 150 meter. Tahap berikutnya minus 16 meter dengan lebar 200 meter," jelasnya.
Edi menerangkan, ada pekerjaan rumah lain yang masih menunggu. Pada alur keluar masuk Pelabuhan Tanjung Perak, terdapat jalur pipa gas milik PT Pertamina Hulu Energi West Offshore Madura (PHE WMO) yang melintang.
Jalur pipa ini menghambat pergerakan kapal. Akibatnya daya angkut kapal yang seharusnya bisa 2.000 TEUS harus dikurangi hingga membawa barang sekitar 1.200 TEUs.
"Itu crossing, menggangu perlintasan kapal. Mesti 2.000 TEUs isinya dikurangi jadi 1.200 TEUs dibebankan ke barang. Itu bukan tanggung jawab kita. Itu PHE WMO sudah kontrak dengan Rekin untuk pindahkan exiting. Sekarang proses pemindahan. Lokasi dipindahkan di pinggir alur," paparnya.
(feb/hds)











































