Chatib Basri, Menteri Keuangan era Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, menuturkan Indonesia perlu menjaga kestabilan ekonomi ketimbang mencapai pertumbuhan tinggi. Dia menilai saat ini bukan lagi masanya mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
"Ini penting untuk menjaga confident. Kalau growth di dunia, tidak lagi zamannya pertumbuhan tinggi," ungkapnya di Hotel The Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Selasa (25/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ekonomi global melemah, ekspor akan melemah. Jadi kestabilan ekonomi akan dipertanyakan," katanya.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 2.000/liter. Bank Indonesia (BI) juga telah menaikan suku bunga acuan menjadi 7,75%. Sehingga dalam waktu dekat, ekonomi Indonesia akan melambat.
"Harga BBM naik dan BI Rate naik itu sudah benar," tegasnya.
Gundi Cahyadi, Ekonom DBS, menilai perlambatan ekonomi menjadi waktu yang tepat membenahi perekonomian Indonesia secara struktural. Dia menilai begitu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seperti meningkatkan efektifitas belanja pemerintah, perbaikan defisit transaksi berjalan (current account deficit), serta mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan.
"Banyak sekali pekerjaan rumah. Kalau mau pertumbuhan terus naik saingi Tiongkok, pekerjaan ini nggak akan selesai," ucap Gundy.
(mkl/hds)











































