Dalam pertemuan investment conference Filipina-Indonesia di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, seorang pengusaha mengeluhkan lambatnya perizinan.
Dalam bahas Inggris yang lantang pengusaha tersebut mempertanyakan mengenai perizinan satu atap yang direncanakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada pejabat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang ingin saya tanyakan, apakah dengan single window itu semua terintegrasi atau masih harus melalui proses seperti itu?" tanyanya kepada Deputi Direktur Promosi Industri, Direktorat Sektor Promosi Investasi BKPM Nurul Ichwan.
Menjawab hal itu, Ichwan dengan lantang menjawab pihaknya menjamin ke depan, layanan perizinan bakal terus ditingkatkan. Tentu dengan perizinan satu atap menurutnya atak akan ada lagi proses perizinan berlama-lama di kementerian atau instansi teknis yang lain.
"Izin akan ada di satu atap. Tanpa banyak jendela," tuturnya.
Ia juga menyinggung soal telah diangkatnya Kepala BKPM yang baru yaitu Franky Sibarani yang berlatar belakang pengusaha. Ia yakin, dipilihnya Franky oleh Presiden Jokowi bukan tanpa alasan. Franky dinilai mengerti seluk beluk berbisnis di Indonesia.
"Dia datang dari Apindo, pengusaha. Yang mana berarti dia tahu bisnis. Maksud dari Presiden Jokowi adalah mengurangi proses perizinan di Indonesia," tuturnya.
Di depan pengusaha dari Filipina dan Indonesia itu, Ichwan mengatakan Presiden Jokowi sempat blusukan ke kantor BKPM. Meski dalam waktu yang relatif singkat, namun cukup membuat banyak perubahan di BKPM. Jokowi memberikan tugas agar BKPM bisa memperbaiki layanannya dalam tempo 6 bulan.
"Walaupun hanya 20 menit dia blusukan. Yang disampaikan pada kami adalah, tugas dalam 6 bulan bagaimana membuat perizinan lebih murah, lebih cepat dan lebih mudah tentu," katanya
(zul/hen)










































