Kapan Ya Jakarta Bisa Seperti Singapura?

Laporan dari Singapura

Kapan Ya Jakarta Bisa Seperti Singapura?

- detikFinance
Rabu, 03 Des 2014 09:17 WIB
Kapan Ya Jakarta Bisa Seperti Singapura?
Singapura - Singapura adalah sebuah negara kota yang kemajuannya sangat pesat. Selain punya infrastruktur maju, negara berpenduduk 5,4 juta jiwa ini juga punya disiplin yang patut ditiru.

Kali ini, detikFinance berkesempatan mengunjungi Negeri Singa. Perjalanan dari Nanyang Technology University ke Orchard Road saja sudah banyak yang bisa diceritakan.

Sulit untuk mencari titik-titik jalan di Singapura yang macet seperti di Jakarta. Kalaupun macet, kendaraan masih bisa melaju meski dengan kecepatan lambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di negara yang hanya terpisah 1,5 jam perjalanan‎ menggunakan pesawat dari Jakarta ini, semua serba maju. Terutama dari segi infrastruktur.

Gedung-gedung apartemen, perkantoran, tertata sangat rapi. Terutama di pusat kota dan jalan-jalan protokol seperti jalan dari dan menuju ke Bandara Changi. Sangat jauh dari kesan berantakan dan semrawut.

"Jauh, lebih bagus di sini daripada Jakarta. Jalannya juga mulus, nggak bolong-bolong," ucap salah satu mahasiswa Nanyang Techonolgy University, Richard ketika berbincang di perjalanan dari Nanyang menuju Orchard Road, Singapura, Selasa (‎2/12/2014).

Perjalanan dari Nanyang Technology University ke Orchard Road ditempuh tanpa ada kemacetan, tak ada kepadatan. Kendaraan melesat dengan kecepatan cukup tinggi tanpa harus takut untuk menginjak rem mendadak karena ruang jalannya cukup luas dan jumlah kendaraannya sedikit.

Tak hanya itu, sepanjang jalan yang banyak ditumbuhi pohon rindang. Sangat jarang ada kendaraan yang diparkir sembarangan, sehingga membuat ruang lebih luas bagi kendaraan lain untuk melaju‎.

Richard, mahasiswa yang sudah 8 tahun menetap di Singapura ini, juga mengatakan bahwa warga Singapura tak banyak yang memiliki kendaraan. Pemerintah setempat menetapkan regulasi yang sangat ketat‎ untuk mendorong warganya agar lebih memilih menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi.

Menurutnya, warga yang hendak membeli kendaraan seakan dipersulit. Warga juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan sertifikat kendaraan dan membayar pajak. Biayanya jauh lebih tinggi dari harga kendaraan yang dibeli.

"Kalau tidak salah sertifikatnya itu bisa sampai 80.000 dolar (Singapura). Harga mobilnya paling hanya 20.000 dolar," katanya.

Dengan menggunakan kurs dolar Singapura yang Rp 9.400, artinya sertifikat plus pajak kendaraan bisa mencapai lebih dari Rp 750 juta. Sedangkan harga mobil adalah sekitar Rp 188 juta.

Itu sebabnya di negara yang luasnya sama seperti pulau Bali ini tak banyak kendaraan, apalagi sepeda motor. Di beberapa sudut jalan di kota, hanya terlihat bus pariwisata, bus tingkat, taksi, mobil pribadi dan sedikit sepeda motor.

Richard menyatakan bahwa Singapura juga tidak sepenuhnya bebas macet. Pada jam-jam sibuk seperti masuk atau pulang kantor ada kemacetan, tetapi tidak separah di Jakarta.

Negara ini juga punya Mass Rapid Transit (MRT) yang menjadi salah satu moda transportasi yang digandrungi masyarakat. Selain cepat, tertib, dan nyaman, harga tiketnya pun terhitung cukup murah.

"Sekitar 80 sen (Rp 7.500)," ujar Richard.

Bukan hanya soal infrastruktur yang jauh lebih maju ketimbang Jakarta. Budaya tertib dan disiplin berkendara masyarakat di Singapura pun patut diacungi jempol. ‎Contohnya saja, kendaraan akan berhenti tepat di belakang zebra cross saat lampu merah menyala, dan memberi kesempatan pejalan kaki untuk menyebrang.

Meski tak ada orang yang menyeberang ataupun petugas berpatroli, mereka tetap mengikuti aturan untuk tidak menerobos lampu merah. Hal ini juga dilakukan di tengah malam, saat jalan benar-benar sudah sepi kendaraan. Semua tertib, tak ada bunyi klakson yang bersahut-sahutan.

‎Pejalan kaki pun berjalan dan menyeberang di tempat yang seharusnya. Jika tak ada zebra cross atau jembatan penyeberangan, mereka harus memutar atau mencari titik di mana mereka bisa benar-benar menyeberang.

Seorang warga Jakarta yang berbincang dengan detikFinance menyimpan harapan kepada kota kelahirannya. Kapan Jakarta sebagai ibu kota negara bisa bercermin dari Singapura?

"Saya miris. Dari Jakarta ke Singapura hanya 1,5 jam. Tapi kondisinya beda banget," tuturnya.

(zul/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads