Seperti dikutip dari CNN, Rabu (3/12/2014), pemerintah Rusia memperkirakan ekonomi negara tersebut akan terkontraksi 0,8% pada 2015. Ini terungkap dalam rencana perubahan anggaran negara 2015.
Pemerintah memperkirakan ekonomi akan melambat karena 2 hal utama. Pertama adalah pelemahan mata uang rubel, dan kedua anjloknya harga minyak sampai di bawah level US$ 80/barel. Dalam anggaran awal, harga minyak diasumsikan US$ 100/barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Rusia punya skenario yang lebih pesimistis, yaitu harga minyak jatuh sampai di kisaran US$ 60/barel. Bila ini terjadi, maka ekonomi Rusia pada 2015 akan terkontraksi lebih dalam, yaitu 3,5-4%.
Rusia memang sangat tergantung pada minyak. Separuh dari pendapatan negara berasal dari penjualan minyak dan gas. Ketika pendapatan dari migas berkurang, maka defisit anggaran tentu membengkak.
Sebenarnya bukan 2 hal itu saja yang membuat ekonomi Rusia 'berdarah-darah'. Sanksi dari negara-negara Barat diperkirakan memberi dampak kepada Rusia hingga US$ 60-80 miliar (Rp 720-960 triliun) pada 2015.
Akibat tidak adanya pasokan pangan impor dari negara-negara Barat, harga kebutuhan pokok di Rusia pun melonjak. Tahun ini, inflasi diperkirakan mencapai 9,7% dan tahun depan bisa 9%.
Beban anggaran semakin berat ketika pemerintah masih harus menanggung jaminan sosial dan pensiun. Pemerintah diperkirakan terpaksa merogoh dana cadangan sampai US$ 9,3 miliar (Rp 111 triliun).
(hds/dnl)










































