Rapat Soal Kereta di Lawang Sewu, Ini Arahan Menhub Jonan

Rapat Soal Kereta di Lawang Sewu, Ini Arahan Menhub Jonan

- detikFinance
Kamis, 04 Des 2014 12:18 WIB
Rapat Soal Kereta di Lawang Sewu, Ini Arahan Menhub Jonan
Semarang - Angka kecelakaan pada perlintasan kereta api di Indonesia masih terbilang cukup tinggi, karena diakibatkan beberapa faktor. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan berharap Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika di daerah memantau langsung lintasan kereta dengan naik di kabin masinis.

Hal itu diungkapkan Jonan saat membuka Rapat Koordinasi Keselamatan Perkeretaapian Dalam Penanganan Perlintasan Sebidang di Daerah di gedung A Lawang Sewu Semarang.

Jonan mengatakan, terhitung selama 5 tahun 8 bulan, setidaknya korban meninggal akibat kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang atau yang berpalang pintu mencapai 5.000 jiwa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perlintasan liar semua itu ada sekitar 5.000. Kalau dari 5.000 itu satu saja tidak ada korbannya, tidak mungkin," kata Jonan di Lawang Sewu, Semarang, Kamis (4/12/2014).

Kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa itu tidak sepenuhnya karena perlintasan tanpa palang pintu, namun kurang kesadaran masyarakat. Misal menerobos palang pintu atau tidak mematuhi rambu. Tidak hanya itu bahkan Jonan pernah mendapati langsung kecelakaan yang diduga korbannya sengaja menabrakkan diri.

"Satu persen dari 5.000 itu bunuh diri. Pas naik Kereta Inspeksi saya pernah mendapati orang bunuh diri," ujarnya di depan pejabat Kemenhub dan Dishubkominfo Jateng beserta jajarannya.

Oleh sebab itu, menurutnya perlu ada upaya dari pemerintah pusat hingga daerah dengan membangun underpass atau fly over sehingga. Karena langkah itu dinilai lebih aman dibanding palang pintu kereta api, di mana masih banyak masyarakat yang melanggarnya

"Membuat underpass atau fly over. Kalau menurut undang-undang, kalau jalan negara ya PU. Tapi kalau di daerah Kabupaten atau kota dananya tidak ada bisa kirim surat ke Menteri PU," terang Jonan.

"Satu itu sekitar belasan miliar, tapi saya tidak hapal panjangnya berapa itu," imbuhnya.

Untuk mendukung hal itu, Kepala Dishubkominfo di daerah diharapkan bisa survei langsung di lapangan dengan naik ke kabin bersama masinis dan melihat bahayanya perlintasan liar yang dibuat sendiri oleh masyarakat.

"Kadishub daerah minta izin siapa gitu berdiri saja di kabin, 10 kali sebulan, pasti kena (kecelakaan) satu," tegasnya.

Sementara itu Kadishubkominfo Kota Semarang, Agoes Harmunanto mengatakan di Kota Semarang ada 53 perlintasan liar. Sedangkan titik perlintasan kereta yang mendesak untuk dibangun flyover antara lain di Mangkang dan Kaligawe.

"Liar ada 53 perlintasan, resmi itu ada 10-an. Yang dikelola Dishubkominfo ada 2 perlintasan di Madukoro sama Indraprasta," katanya.

Terkait usul menteri agar Kepala Dishubkominfo di daerah meninjau langsung perlintasan kereta dengan naik di kabin masinis, Agoes menerima hal itu sebagai saran yang baik dan peringatan agar jajarannya melihat kondisi langsung lapangan.

"Tujuannya Pak Menteri supaya tahu kebutuhan dan fasilitas yang ditangani pemerintah. Istilahnya agar melihat lapangan, di mana titik rawan," pungkas Agoes.

(alg/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads