Tips Sukses CT: Kalau Jatuh Bangun Lagi, Sampai Jatuhnya Bosan

Tips Sukses CT: Kalau Jatuh Bangun Lagi, Sampai Jatuhnya Bosan

- detikFinance
Sabtu, 06 Des 2014 21:37 WIB
Tips Sukses CT: Kalau Jatuh Bangun Lagi, Sampai Jatuhnya Bosan
Nusa Dua -

Pengusaha nasional Chairul Tanjung malam ini hadir dalam acara CEO Networking 2014 di Bali Nusa Dua Convention Center. Pria yang akrab disapa CT itu cerita banyak hal, mulai dari membangun usaha hingga menjadi pengusaha sukses seperti sekarang.

Kepada para peserta, pemilik CT Corp itu mengungkapkan rahasia menjadi pengusaha sukses. Ia mengatakan, menjadi pengusaha harus tahan banting alias tidak gampang menyerah.

"Syaratnya gampang kalau jatuh bangun lagi, jatuh lagi bangun lagi terus sampai jatuhnya bosan. Sehingga kita memahami kenapa kita jatuh," seru CT saat Gala Dinner CEO Networking 2014 di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Sabtu (6/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak hanya itu, CT menceritakan awal mula ia menjadi pengusaha. Hasil sukses yang ia dapatkan sekarang bukan karena warisan orang tua, tetapi jerih payah hasil perjuangan hidup saat ia kuliah.

CT yang mengambil kuliah jurusan kedokteran gigi itu mengungkapkan awal mula membangun usaha kecil informal saat kuliah. Usaha itu dijalankan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kemudian usaha kecilnya itu maju, hingga CT mempunyai karyawan sendiri.

"Dari pengusaha kecil lanjut lagi pengusaha menengah mengelola dan punya karyawan. Beranjak lagi akhirnya pengusaha besar," paparnya.

Kemudian ia juga menceritakan bagaimana sulitnya mendapatkan pinjaman modal dari perbankan. Pihak perbankan selalu bertanya beberapa kali untuk bisa memberikan pinjaman modal usaha.

"Zaman dulu bank pemerintah begitu berkuasa. Bilang you kaya, you nggak. Karena saat itu tanpa jaminan dan tanpa kelayakan susah," tambahnya.

CT mencatat, pertama kali ia meminjam uang adalah pada 1981 untuk mengembangkan usahanya. Jumlah pinjaman yang didapat saat itu Rp 75 juta. Lalu terus berlanjut sampai kira-kira di 1992, saat usahanya naik kelas menjadi menengah.

"Singkat cerita saya sudah masuk pengusaha menengah, saya dikenalkan sahabat saya kepada direksi. Tahun 1992, lalu teman saya dapat fasilitas terus dari Bank Exim. Saya waktu itu dulu pinjam Rp 10 miliar tapi temen saya yang kenalkan itu sudah bisa pinjem Rp 90 miliar," papar CT.

Lalu terjadi krisis ekonomi di Indonesia pada 1997-1998. Banyak pengusaha saat itu gulung tikar karena resesi ekonomi berkepanjangan, tapi CT beruntung selamat dari krisis.

"Pada 1998 waktu krisis dia tidak bisa bertahan, alhamdulillah saya dengan keinginan saya, pada saat krisis utang saya relatif kecil jadi bisa keluar dari krisis," kata CT.

Tidak hanya mengisahkan perjalanan hidupnya membangun usaha, CT juga sempat berpesan, menjadi pengusaha harus jeli mencari bentuk usaha yang berkelanjutan (sustainability). Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar bisa menjadi peluang kesuksesan yang didapat para pengusaha.

"Sustainability lebih penting. Bangsa kita perlu tahu kita punya penduduk 250 juta, usia muda dan bonus demografi, orang-orang berpenghasilan jumlahnya lebih banyak dari yang berpenghasilan. Biasanya punya uang taruh atau saving juga buat konsumsi. Hampir 60% pertumbuhan ekonomi kita didorong konsumsi. Jadi 20-30 tahun yang akan datang kalau dunia usaha bisa jaga sustainability tentu akan masuk era lebih baik," serunya.

Pada kesempatan itu, CT juga sempat mengungkapkan perbedaan antara pengusaha (korporat) dan pejabat (birokrat). CT yang pernah menjabat di 3 kementerian Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini menceritakan soal perbedaan kerja antara birokrat dan korporat.

"Ini perbedaan yang ada. Orang usaha selalu menyalahkan orang pemerintah seperti lambat ini itu. Lalu pemerintah memandang pengusaha serakah, hanya mikirin keuntungan, nggak mikir negara ini. Jadi ada miss communication," terangnya.

Hal ini yang ia coba ungkapkan kepada para peserta yang hadir di dalam acara.

"Di dalam dunia pemerintah banyak jebakan batman. You berhasil besok pasti ada panggilan dari KPK dan lain-lain, jadi berat seorang korporat masuk birokrat, ini sekadar gambaran," cetus CT.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads