Ada beberapa agenda penting yang Susi hadiri selama di Ambon. Saat kunjungan ke Ambon, Susi tidak sendiri karena ditemani Dirjen Perikanan Tangkap KKP Gellwyn Yusuf dan Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Asep Burhanudin.
Apa saja agenda Susi di Ambon? Yuk simak penulusurannya seperti dihimpun detikFinance, Jumat (12/12/2014).
Resmikan Pengadilan Perikanan Ambon
|
|
"Selama ini Pengadilan Perikanan terdengar samar-samar, belum begitu efektif karena banyak masyarakat belum tahu," ungkap Susi.
Susi berharap dengan terbentuknya Pengadilan Perikanan Ambon, segala bentuk kejahatan terutama pelaku pencurian ikan bisa ditindak tegas. Hal itu karena besarnya kerugian yang diderita pemerintah dari maraknya praktik illegal fishing di laut Indonesia.
Susi memperkirakan per tahun nilai kerugian pemerintah akibat illegal fishing mencapai Rp 300 triliun. Nilai itu belum termasuk kerugian lain seperti pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak tepat sasaran, kerusakan laut dan lainnya.
"Kapal pencuri ikan yang banyak tertangkap tidak bebas begitu saja. Saya harap penegakan peradilan harus dilakukan agar masyarakat kita tahu berapa nilai kerugian yang diderita negara," katanya.
Peresmian Pengadilan Perikanan, Pengadilan Negeri Ambon molor dari jadwal yang ditetapkan panitia. Seharusnya peresmian dilakukan pada pukul 10.00 WIT namun baru terealisasi pada pukul 13.15 WIT. Hal itu disebabkan karena keterlambatan kedatangan Susi di Bandara Patimura, Ambon.
Susi hadir tidak sendiri dalam acara ini. Ada Gubernur Maluku Said Assegaf, Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali. Selain peresmian Pengadilan Perikanan, Pengadilan Negeri Ambon, secara simbolis Susi juga meresmikan dua Pengadilan Perikanan lain yaitu di Sorong (Papua Barat) dan Merauke (Papua).
Pembentukan lembaga Pengadilan Perikanan Ambon, Sorong dan Merauke berdasarkan Perpres No. 6/2014 pada tanggal 6 Februari 2014. Dijelaskan dalam aturan itu segala pembiayaan atas terbentuknya satuan kerja termasuk di dalamnya sumber daya manusia baik biaya operasional dan non operasional termasuk pembangunan fisik menjadi tanggung jawab oleh Mahkamah Agung (MA).
Blusukan ke Pelabuhan Perikanan Ambon
|
|
"Saya ingin tidak boleh ada ABK asing di sini," pesan Susi kepada Dirjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gellwyn Yusuf di lokasi.
Setelah itu, Susi juga berjumpa dengan kumpulan nelayan Ambon. Di sini Susi memberikan pesan khusus agar laut Maluku dijaga dari tindakan illegal fishing.
"Mana anak-anak muda ambon. Harus jadi nelayan yang hebat. Kita cari kapalnya, kita sita kapalnya. Kalau tidak ada kita buatkan. Tetapi jangan jadi preman di Jakarta, setuju ya. Dijagain lautnya ya. Masa ikan kita juga impor ikan," kata Susi.
Di tempat ini Susi sempat berfoto dengan masyarakat sekitar dan banyak melambaikan tangan.
Naik Kapal Keliling Perairan Maluku
|
|
"Tolong tangan saya," kata Susi saat menaiki kapal.
Setelah itu, Susi yang ditemani Gubernur Maluku Said Assegaf, Dirjen Perikanan Tangkap Gellwyn Yusuf dan Dirjen PSDKP Asep Burhanudin kemudian masuk ke ruang kemudi. Terkadang Susi keluar dan naik ke beranda atas kapal untuk melihat-lihat besarnya potensi laut di Perairan Maluku.
Namun perlu dicatat, kapal yang dinaiki Susi dikawal ketat oleh 3 pasukan khusus katak bersenjata laras panjang. Sedangkan 4 pasukan katak lain menaiki speedboat kecil yang dilengkapi senjata laras panjang dan mengikuti kapal yang dinaiki Susi.
Lihat Kapal Penangkap 1,2 Ton Hiu Putih
|
|
Di kapal yang terbukti menangkap hiu putih di Perairan Aru ini, Susi menemukan ada 1,2 ton ikan hiu beku. Menurut rencana, ikan hiu beku ini akan diselundupkan ke negara Tiongkok melalui Jakarta.
"Mau dibawa ikan hiu ini," tanya Susi kepada kapten kapal yang tidak mau disebutkan namanya.
Kapten kapal itu dengan lantang menjawab negara Tiongkok. "Ke Jakarta lalu Tiongkok," jawabnya.
Mau mencari informasi lebih detil, Susi kembali memanggil salah satu Anak Buah Kapal (ABK). Salah satu ABK Kapal Fak-fakΒ bernama Kasman menjawab semua pertanyaan Susi.
"Kamu orang mana, dan dapat ikan ini darimana?" tanya Susi.
"Tegal, nama Kasman, tangkapan dari (Laut) Aru," jawabnya.
"Yang ngurus siapa di Aru? kembali Susi bertanya.
"Nggek tahu bu," jawab Kasman.
"Gaji kamu berapa?" tanya kembali Susi.
"Rp 45.000/hari," kata Kasman.
"Ini tangkapan sekali melaut, dapat berapa? tanya Susi kembali.
"Saya hanya ngangkut saja," jawab Kasman.
Hingga saat ini, Kapal Fak-fak beserta barang bukti 1,2 ton ikan hiu tanpa kepala masih ditahan di Lantamal IX Ambon. Kapal beserta barang bukti ikan hiu akan menjadi bukti untuk menjerat tersangka yang terlibat.
Perpisahan, Susi Rapat Bareng dengan DPRD
|
|
"Ambon wilayah tangkap yang luar biasa. Tidak ada wilayah perikanan secantik wilayah bapak," ungkap Susi saat ngobrol dengan Gubernur Maluku Said Assegaf.
Tidak hanya meresmikan Pengadilan Perikanan Ambon, Susi juga melihat kondisi Pelabuhan Perikanan Nasional (PPN) Ambon. Bahkan Susi dan Said Assegaf harus naik kapal pengawas perikanan milik Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Susi berkeliling melihat luas laut Maluku selama 30 menit pulang-pergi.
"Sudah saatnya kita menjadi tuan rumah di laut kita. Saya inginkan perikanan tangkap itu harus dikuasai pemain lokal. Kapal harus dibuat di lokal sehingga menghidupkan galangan kapal. Bima dan Sulawesi sangat terkenal dengan kapalnya jangan beli kapal dari luar," pesan Susi.
Sebelum pulang kembali ke Jakarta, Susi punya harapan besar kepada putra-putri Ambon. Ia meminta masyarakat Ambon menjaga lautnya dan menangkap ikan dengan alat tangkap ramah lingkungan. Sehingga penangkapan ikan bisa dilakukan secara berkelanjutan.
"Saya ingin pemuda di Ambon membangun Ambon. Dijagain lautnya ya, masa kita impor ikan. Cita-cita Maluku menjadi lumbung ikan nasional saya yakin akan tercapai," tandas Susi yang kemudian kembali menaiki Toyota Chamry berplat RI-39.
Halaman 2 dari 6











































