Sayangnya dari berbagai upaya dan wacana itu belum ada yang terealisasi dan berhasil, sehingga kini harga cabai masih naik-turun secara ekstrem sepanjang tahun. Padahal telah terjadi pergantian kebijakan dan berbagai menteri seperti pertanian maupun perdagangan sejak beberapa tahun lalu.
Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana menilai pemerintah belum serius menangani fluktuasi harga cabai setiap tahun dan komoditi pangan lainnya. Menurutnya kebijakan yang paling sering dilakukan pemerintah adalah soal tata niaga seperti membuka-tutup impor saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Dadi sudah banyak wacana dan rencana yang disampaikan kementerian perdagangan maupun kementerian pertanian untuk mengendalikan harga cabai.
"Dulu dari pertanian sempat ada pilot project teknologi shading net, agar pohon cabai tak terpengaruh curah hujan tinggi, tapi nggak jalan," kata Dadi.
Selain itu, pemerintah juga sempat mencanangkan gerakan menanam cabai di pekarangan agar mengurangi dari sisi demand. Namun lagi-lagi, program-program ini tak menyelesaikan masalah soal fluktuasi harga cabai karena ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.
"Ada juga gerakan menanam cabai, ngapain itu? Saya bilang itu tolol. Seharusnya bagaimana memberdayakan petani di pedesaan, meningkatkan penghasilan petani. Kalau gerakan itu artinya masih berorientasinya hanya kepada konsumen," katanya.
Selain itu, sempat ada rencana pengembangan hilirisasi produk cabai yaitu mengolah cabai segar menjadi cabai bubuk dan saus. Termasuk rencana menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPN) produk olahan cabai, namun lagi-lagi belum pernah terealisasi.
"Banyak proyek yang digagas, tapi nggak tuntas," ujar Dadi.
Ia menambahkan, dari gagasan-gagasan tersebut yang konkret menjadi aksi nyata adalah kebijakan impor cabai ketika terjadi lonjakan harga di dalam negeri. Hal ini terjadi karena impor dianggap kebijakan paling mudah dilakukan.
"Selama ini siklus cabai itu Desember-Februari tanam, panen Maret-Mei lalu harga turun, setelah itu harga merangkak naik lagi karena produksi kuurang, ini yang harus dibenahi," katanya.
(hen/hds)











































