Manajemen PT Margabumi Matraraya memprediksikan bisa mencatatkan kenaikan pendapat menjadi lebih dari Rp 500 juta per hari dari sebelumnya hanya Rp 410 juta per hari di tahun 2015. Secara tahunan diprediksi perusahaan bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 190 miliar di 2014 dari sebelumnya hanya Rp 150 miliar 2015.
Kenaikan pendapatan ini terutama didorong oleh kenaikan tarif jalan tol sepanjang 20,7 Km tersebut hingga 30% mulai 24 Desember 2014.
"Saat ini rata-rata pendapatan kita sekitar Rp 410 juta per hari. dengan adanya kenaikan tarif kami prediksikan ada kenaikan sekitar 25%. Jadi bisa di atas Rp 500 juta," ujar Direktur Keuangan Margabumi Matraraya Fanny dalam paparan media di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta, Rabu (17/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut, dengan kenaikan pendapatan harian tersebut maka secara otomatis akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan secara tahunan.
"Kalau per hari kita naik, otomatis tahunan juga naik. Tahun 2014 ini kurang lebih Rp 150 miliar. Tahun depan kira-kira bisa menjadi Rp 180 -190 miliar," sebutnya.
Namun demikian ia enggan berkomentar mengenai peluang laba yang bakal diraih dengan kenaikan pendapatan ini. Ia beralasan pihak perusahaan masih harus menghitung berbagai aspek seperti kenaikan inflasi dan kenaikan biaya operasional jalan tol.
"Saat ini biaya operasional kami 40% dari pendapatan. Ke depan kita perlu hitung lagi jadi belum tahu berapa laba kita tahun depan. Banyak yang harus dihitung," pungkasnya.
Proyek-proyek yang Sedang Digarap
Direktur Utama Margabumi Matraraya Harlim Christanto menjelaskan sudah melakukan paparan di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta. Menurutnya ada tiga jenis pekerjaan yang dilakukan perusahaan mulai dari perbaikan, penambahan lajur dan pelebaran jalan tol.
"Pertama adalah penambahan lajur segmen Kebomas-Manyar sepanjang 3,4 km dari semula 2 arah 2 lajur menjadi 2 arah 4 lajur. Ini dilakukan agar jalan tol ini memenuhi standar jalan tol nasioal sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 yaitu jumlah lajur minimal ada dua di setiap arah, dan harus ada pembatas jalan di kedua arah, sekarang belum ada," ujar Harlim dalam kesempatan yang sama.
Pekerjaan kedua, lanjut dia adalah Perbaikan dan Pelebaran jembatan Railway di Km 7+500 sepanjang 968 m dari semula 2 arah 4 lajur menjadi 2 arah 6 lajur. Dan pekerjaan ketiga adalah perbaikan pile slab atau beton penahan longsor dari Km 1+750 sampai Km 11+900 sepanjang 10,15 Km.
"Pekerjaan perbaikan, penambahan lajur dan pelebaran tersebut memerlukan biaya investasi tambahan sebesar Rp 525,622 miliar," sebutnya.
Namun demikian, lanjut dia tidak semua kebutuhan investasi tersebut dapat dibebankan ke pengguna jalan tol dalam bentuk kenaikan tarif. Ia mengatakan, biaya yang dapat dibebankan hanya sebesar Rp 321,829 milar dan sisanya ditanggung perusahaan sebagai badan usaha jalan tol (BUJT) yang mengoperasikan jalan tol Surabaya-Gresik.
"Biaya investasi tambahan yang dapat dikompensasikan adalah sebesar Rp 321,829. Selebihnya ditanggung BUJT, ini merupakan risiko perusahaan," sebutnya.
Dengan semua perbaikan dan peningkatan kualitas ini diharapkan kebutuhan masyarakat dalam berlalulintas dapat terpenuhi.
Β "Jalan tol kami menjadi memenuhi standar kelayakan dan keselamatan. Jadi masyarakat lebih nyaman melintas," ungkap dia.
Dia menambahkan pekerjaan ini juga dilakukan untuk mengantisipasi adanya lonjakan arus keluar masuk barang industri yang berkembang pesat di Surabaya Barat dan Gresik sejalan dengan penerapan Tol Laut Jokowi.
"Apalagi ditambah Pelabuhan Teluk Lamong nantinya beroperasi," sambung dia.
Margabumi Matraraya mencatat volume kendaraan dari dua arah Surabaya-Gresik selama ini mencapai 75.000 kendaraan/hari. Diperkirakan volume kendaraan di ruas tol tersebut akan meningkat hingga dua kali lipat tahun depan.
Perseroan mendapat perpanjangan konsesi pengelolaan jalan tol Surabaya-Gresik dari yang semula dijadwalkan habis tanggal 12 Maret 2016 menjadi 30 Oktober 2028. Perpanjangan diberikan karena BUJT ini telah melakukan investasi tambahan (dna/ang)











































