Jangka waktu untuk merealisasikan proyek berjalan relatif singkat yakni sekitar 2,5 tahun. Meski cepat, Lino bercerita soal ribut-ribut terkait perizinan hingga regulasi untuk melahirkan New Priok.
"Ini harus 'ribut' dengan beberapa menteri untuk bikin proyek. Bikin proyek besar harus siap 'ribut' dengan banyak stakeholder. Kalau kompromi nggak jadi," kata Lino saat berbicara pada acara transportasi di Ballroom UOB di Jakarta, Kamis (18/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proyek New Priok yang besar, pasti ada gangguan. Di Priok, saya bentuk oversite committe. Ketuanya Pak Erry Riyana, Faisal Basri. Saya minta setiap 3 bulan announce transparansi ke publik. Saya perlu anjing herder yang besar untuk setop orang yang minta-minta kerjaan," ujarnya.
Lino juga mengajak konsultan keuangan, konsultan proyek, hingga pengacara internasional untuk mempersiapkan proyek New Priok. Alasannya, ia ingin memberikan keyakinan kepada investor tentang prospek pengembangan New Priok.
"Terminal 1 (New Priok), sama dengan konsep Public Private Partnership. Itu PIC (penanggungjawab) Pelindo II. Proyek ditender. Maka penyiapan dokumen harus first class. Saya libatkan financial advisor, lawyer yang first class. Orang asing bisa pede lihat dokumen. Itu cara kurangi risk," jelasnya.
Saat beroperasi, New Priok akan berukuran 2 kali lipat daripada ukuran ataupun kapasitas Pelabuhan Tanjung Priok saat ini bahkan secara layanan bisa setara dengan pelayanan pelabuhan kelas dunia.
"Terminal 1 nanti sama dengan pelayanan dengan pelabuhan di Singapura, Shanghai, Rotterdam. Ini cara kita undang partner," ujarnya.
(feb/ang)











































