Menurut KNTI, nelayan asing biasa menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan seperti pukat harimau yang menyebabkan laut Selat Malaka rusak parah.
"Wilayah perikanan di sini sudah rusak parah. Selat Malaka dulu paling subur sekarang sudah tandus karena karang hancur," kata Sekretaris KNTI Tanjung Balai Asahan Dahli Sirait kepada detikFinance, Kamis (18/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dahli mengatakan populasi ikan tuna di Selat Malaka sudah mulai berkurang. Kini potensi laut di Selat Malaka hanya ditemukan cumi, udang dan ikan kembung.
"Pair Trawls menggunakan dua kapal speedboat ditarik menurut Permen 02 jelas dilarang. Tetapi praktiknya di Selat Malaka alat ini banyak digunakan," katanya.
Selain nelayan Malaysia, WPP Selat Malaka juga banyak disinggahi nelayan asal Thailand dan Myanmar. Ketiga negara itu kerap masuk ke wilayah zona tangkap perairan Indonesia.
Akibat rusaknya lingkungan laut Selat Malaka, kini nelayan lokal Tanjung Balai Asahan harus mencari ikan lebih jauh. Hal itu karena populasi ikan di pesisir pantai sudah habis karena rusaknya lingkungan.
"Jadi nelayan tradisional biasa tangkap ikan maju hingga ke perbatasan," tukasnya.
(wij/hen)











































