Padahal, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah membebaskan impor daging sapi dan sapi hidup (bakalan dan siap potong) sejak Agustus 2013. Apa alasan importir?
"Kita ini kan beli berdasarkan harga jual luar negeri. Harga daging luar negeri selama tahun 2014 naik 20-30%," ungkap Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (APIDI) Thomas Sembiring, saat ditemui di Warung Daun Cikini, Jakarta, Senin (22/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas memberikan contoh, permintaan impor daging sapi Australia oelh Tiongkok naik dari 120.000 ton menjadi 150.000 ton. Sementara ekspor daging sapi Australia tahun ini sudah melebihi 1 juta ton, atau di luar batas kemampuan 1 juta ton/tahun.
"Kemudian ditambah kurs dolar naik. Itu yang tidak bisa kita antisipasi," imbuhnya.
Thomas mencatat, sejak awal 2014 nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berfluktuatif. Mulai Rp 9.000/US$, naik menjadi Rp 10.000-11.000/US$, dan saat ini mencapai lebih dari Rp 12.000/US$.
"Belum lagi bayar bea masuk 5%, PPh 2,5%," katanya.
Dengan beban cukup tinggi, ditambah persaingan importir daging sapi dan sapi hidup yang semakin banyak, masing-masing importir hanya mendapatkan margin keuntungan kecil.
"Sekarang ini selama 2014 itu hampir importir sapi dan daging megap-megap karena bersaing. Kuota bebas keuntungan semakin ketat," ujarnya.
(wij/dnl)











































