Namun, produsen pesawat asal Prancis, Airbus, menjamin pesawat terbarunya tidak akan mengalami masalah serupa. Dalam pesawat berbadan lebar terbarunya yaitu Airbus 350 XWB, baterai litium-ion tidak digunakan.
"Kami tidak memakai baterai litium. Memang saat uji coba sempat dipakai, tetapi akhirnya kami menggunakan baterai jenis nickel-cadmium (ni-cad)," kata A350 XWB Marketing Director Customer Affair Airbus, Mike Bausor, di markas Airbus, Toulouse, Prancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama uji terbang tidak ada masalah," ujarnya.
Executive Vice President A350 XWB Programme Didier Evrad menjelaskan, setelah uji terbang selama 14,5 bulan, A350 XWB memperoleh 2 jenis sertifikasi dari lembaga internasional yakni European Aviation Safety Agency (EASA) dan Federal Aviation Administration (FAA). Sertifikasi ini merupakan yang tercepat di dalam sejarah Airbus.
"15 bulan sejak dimulainya flight test kita dapat sertfikasi. Ini sertifikasi tercepat yang pernah dicapai Airbus," jelasnya.
A350 XWB tahap awal baru diproduksi untuk tipe A350-900, selanjutnya dikembangkan untuk tipe A350-1000. Tipe A350-1000 direncanakan mulai dikirimkan kepada pelanggan pertamanya pada pertengahan 2017.
Hingga akhir November 2014, Airbus telah menerima pesananan pesawat A350-900 dan A350-1000 sebanyak 778 unit dari 41 pelanggan.
(feb/hds)











































