'Hadiah' Tahun Baru dari Perajin, Harga Tempe-Tahu Bakal Naik 10%

'Hadiah' Tahun Baru dari Perajin, Harga Tempe-Tahu Bakal Naik 10%

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2014 13:42 WIB
Hadiah Tahun Baru dari Perajin, Harga Tempe-Tahu Bakal Naik 10%
Jakarta - Para perajin tahu-tempe berencana menaikkan harga produknya sebesar 10% pada akhir bulan ini, karena kenaikan harga kedelai dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Mereka mengklaim sudah tak menaikkan harga tahu-tempe sejak akhir tahun lalu.

"Sekarang memang kita kurangi dulu ukuran tahu tempe. Nanti kalau tak tahan lagi, akhir bulan ini terpaksa kita naikkan harga sambil melihat situasi harga kedelai, kalau ada kenaikan sekitar 10%," kata Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin kepada detikFinance, Selasa (23/12/2014).

Aip mengatakan para perajin tahu tempe terakhir menaikkan harga pada September 2013. Pada waktu itu, harga kedelai di perajin masih sekitar Rp 7.000-9.000 per kg, dengan kurs dolar masih Rp 10.000. Saat ini, harga kedelai di perajin sudah mencapai Rp 8.500-11.000 per kg, dengan kurs dolar Rp 12.000 lebih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Faktor yang mempengaruhi harga tempe-tahu adalah pertama harga kedelai, kedua ongkos angkutan, ketiga bahan bakar, keempat biaya hidup sehari-hari dari perajin," kata Aip.

Menurutnya rata-rata per potong harga tempe saat ini Rp 6.000-8.000 tergantung daerah pemasaran. Sedangkan untuk harga tahu, ukuran 4 potong rata-rata Rp 4.000-5.000 per bungkus.

"Jadi faktor utama rencana kenaikan yaitu selain BBM, juga dolar yang juga gonjang-ganjing," kata Aip.

Ia mengakui saat ini kenaikan harga kedelai di tingkat importir memang relatif rendah yaitu dari Rp 7.600 per kg pada bulan lalu, menjadi Rp 7.800 per kg, yang dipengaruhi kurs rupiah terhadap dolar AS.

Sedangkan harga kedelai di tingkat perajin justru naik sangat signifikan yang saat ini berkisar Rp 8.500-11.000 per kg. Harga kedelai Rp 8.500 untuk Jabodetabek, sedangkan Rp 11.000 per kg di Cilacap, bahkan di Padang Rp 12.000 per kg karena ongkos angkut yang mahal karena jarak dan kenaikan biaya.

Menurut Aip penyebab harga kedelai di perajin naik tinggi karena tata niaga yang tak diatur pemerintah. Saat ini rantai distribusi kedelai dari importir maupun petani cukup panjang, yaitu distributor, pedagang besar, pedagang kecil, pengecer, hingga ke perajin.

Aip mengakui Gakoptindo sempat mendapat alokasi impor kedelai untuk memangkas biaya ke perajin. Namun sayangnya Gakoptindo tak mendapatkan dukungan perbankan dengan bunga yang rendah. Sedangkan perusahaan importir multinasional justru mendapat pinjaman bunga kredit yang kompetitif.

"Pemerintah tak mau bantu, kredit tak dibantu, kita kalah dengan perusahaan Amerika yang bunga kreditnya 1%," katanya.

(hen/hds)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads