BPS: Tahun Depan Permintaan Daging Sapi Naik 8% Jadi 639.000 Ton

BPS: Tahun Depan Permintaan Daging Sapi Naik 8% Jadi 639.000 Ton

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2014 15:25 WIB
BPS: Tahun Depan Permintaan Daging Sapi Naik 8% Jadi 639.000 Ton
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan kebutuhan daging sapi masyarakat Indonesia mencapai 639.000 ton di 2015. Angka ini naik sekitar 8% dari kebutuhan tahun ini sebesar 590.000 ton, sedangkan di 2013 hanya 529.000 ton.

Namun permintaan daging yang terus meningkat tidak seluruhnya dipasok dari sapi lokal karena keterbatasan populasi hidup di dalam negeri. Sebagian daging sapi harus dipenuhi dari impor terutama Australia.

Kepala BPS Suryamin menyebutkan populasi ternak Indonesia sebesar 14,2 juta ekor. Secara di atas kertas, populasi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan daging tahun depan. Namun untuk mendapatkan sapi hidup lokal hingga diubah menjadi daging siap konsumsi lebih sulit dibandingkan impor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"14,2 juta populasi ternak itu sudah mampu terpenuhi kebutuhan kita. Tetapi peternak ini kalau mau dijual sifatnya tertentu misalnya kalau anaknya sunatan atau wisuda," ungkap Suryamin di Gedung BPS Jakarta, Selasa (23/12/2014).

Suryamin mencatat di 2013 jumlah rumah tangga pemelihara sapi potong hanya 5,07 juta orang. Mayoritas peternak tergolong peternak kecil.

Hal itu didukung data BPS yang menyebut 66,34% dari 5,07 juta rumah tangga mengusahkan sapi potong hanya 1-2 ekor. Sedangkan data lain menyebut 75,75% rumah tangga mengembangbiakan bukan untuk dijual.

Lalu Suryamin mempunyai data lain yaitu 65,96% rumah tangga sengaja mengandangkan sapi potong. Hanya 34,14% dari 5,07 juta orang sapi potong sengaja dilepas sama seperti pola peternakan sapi di Australia.

"Informasi ini penting, kepemilikan kalau sedikit pemasok ke pasar sulit. Sedangkan kebutuhan daging masyarakat perlu," imbuhnya.

Sementara itu untuk biaya produksi sapi potong per ekor/tahun memerlukan Rp 3,592 juta dengan nilai jual Rp 4,115 juta/ekor/tahun atau rasio 87,29%.

Biaya tertinggi yang dikeluarkan peternak adalah untuk pakan sebesar 57,78%, pakan terbagi menjadi dua yaitu pakan buatan dan hijauan dengan porsi 48,26% dan 11,51%, upah pekerja 33,53%, dan 8,7% lainnya.

"Pada umumnya sebagian usaha dilakukan sendiri peternak. Tetapi perlu dicermati 82,32% rumah tangga peternak (5,07 juta) menjual tidak rutin. Bulan Juli-Agustus-Oktober penjualan paling banyak," sebut Suryamin.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads