Perjuangan Petani Kedelai Grobogan di Tengah Serbuan Produk Impor

Perjuangan Petani Kedelai Grobogan di Tengah Serbuan Produk Impor

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2014 16:50 WIB
Perjuangan Petani Kedelai Grobogan di Tengah Serbuan Produk Impor
Grobogan - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan hasil sensus 2013 pertanian, terungkap minat petani terhadap tanaman kedelai rendah. Penyebabnya karena harga jual yang tak menarik bagi petani.

Namun di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah (Jateng), masih ada petani yang tetap setia menanam kedelai di tengah serbuan kedelai impor. Saat ini saja, dari kebutuhan kedelai per tahun 2,5 juta ton, yang bisa dipenuhi dari dalam negeri hanya sekitar 700.000 ton termasuk dari Grobogan.

Grobogan merupakan salah satu dari segelintir sentra kedelai di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Di salah satu desa, yaitu Desa Sembungharjo, Kecamatan Kulokulon, beberapa petani di sana masih setia dengan kedelainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang petani kedelai bernama Soekarman, yang juga Sekretaris Desa Sembungharjo, mengungkapkan menjadi petani kedelai harus siap dengan fluktuasi harga kedelai. Ia memiliki lahan kedelai 3 hektar, dan termasuk yang beruntung dibandingkan petani lainnya yang hanya punya lahan rata-rata di bawah 1 hektar.

Ia mengatakan pada masa kedelai sedang langka, harga kedelai Grobogan bisa laku dijual Rp 12.000/kg, sehingga petani untung besar, sedangkan bila sedang panen raya harganya anjlok bisa 50% atau hanya Rp 6.000/Kg, seperti yang terjadi di tahun lalu, petani merugi. Saat ini diperkirakan harga kedelai sekitar Rp 8.000/kg, masih menguntungkan untuk petani.

"Tengkulak seenaknya, tetapkan harga seenaknya, tapi kalau tak jual ke tengkulak ke mana lagi?" kata Soekarman akhir pekan lalu, di Grobogan.

Soekarman mengatakan rata-rata produksi kedelai di Grobogan mencapai 3 ton per hektar, yang sepanjang tahun harus berganti tanaman yaitu padi dan jagung. Waktu tanam kedelai hingga panen bisa mencapai sekitar 3 bulan. Saat ini, kedelainya sudah berusia 1,5 bulan dan targetnya akan panen raya Januari tahun depan.

"Yang menjadi kendala tanam kedelai itu kalau panasnya kurang, kalau hujan bisa busuk," ujarnya.

Menurutnya, bila kedelai-kedelainya busuk maka harga kedelai nyaris tak berharga. Jangan harap harga kedelainya bisa laku Rp 8.000/kg atau Rp 12.000/kg.

"Kalau busuk harganya Rp 1.000-1.500 per kg, yang beli tengkulak untuk pakan celeng, yang untung tengkulak," keluhnya.

Ia juga mengeluh, tahun ini bibit gratis yang biasanya diberikan dari pemerintah tak turun. Akhirnya ia harus merogoh kocek sendiri untuk menanam kedelai.

Menurutnya setiap hektar butuh 15 kg bibit kedelai, yang harga rata-rata per kg mencapai Rp 18.000. Selain itu, ia juga harus merogoh uang untuk membeli pupuk.

Kendala lain menanam kedelai yaitu serbuan hama ulat yang bisa mengganggu produksi. Selain itu, saat ini para petani kedelai tak ada pilihan lain menjual hasil kedelainya ke tengkulak dengan harga yang rendah.

Seorang petani kedelai lainnya yang bernama Suardi punya permintaan kepada pemerintah agar peduli dengan petani kedelai seperti dirinya. Permintaannya tak muluk-muluk yaitu agar pemerintah daerah atau pusat memberikan bantuan traktor tangan untuk membajak. Harga traktor yang hanya Rp 13 juta, begitu berat bila harus merogoh dari kantongnya sendiri.

"Kita minta bantuan traktor membajak, biar bisa cepat," pinta Suardi.

Ia berharap pemerintah tetap mendukung petani kedelai Grobogan agar tetap menanam kedelai. Saat ini, rata-rata di Grobogan setiap 1 desa ada 400 hektar lahan yang ditanami kedelai. Bila tak ada dukungan dari pemerintah khususnya soal harga, maka seiring perjalanan waktu para petani di sentra kedelai ini akan 'kapok' menanam kedelai.

(hen/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads