"Para importirnya mereka tidak naikkan harga, yang naik itu pada tingkat eceran," kata Gobel di Istana Negara, Selasa (23/12/2014).
Gobel meminta para importir kedelai untuk melakukan pengawasan ke lapangan untuk jalur distribusinya masing-masing. Jalur distribusi kedelai setelah importir antara lain distributor, pedagang besar, ritel hingga ke perajin tahu tempe.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya dengan para imprtir melakukan pengecekan ke lapangan, maka bisa mengetahui siapa saja distributor atau pengecer yang menaikkan harga.
"Saya lagi atur kembali tata cara distribusinya. Semua distributor harus tercatat atau punya izin. Sehingga kami bisa terkontrol," katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe-Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan harga kedelai sudah naik rata-rata 7-10% di tingkat harga importir sejak awal Desember 2014. Pada bulan lalu harga kedelai di tingkat importir masih Rp 7.600 per kg, kini sudah Rp 7.800 per kg.
Namun menurut Aip, kenaikan harga kedelai di tingkat perajin justru lebih tinggi dan bervariasi. Penyebabnya faktor ongkos angkut yang naik akibat kenaikan harga BBM dan panjangnya rantai distribusi, membuat harga kedelai di tingkat perajin naik lebih tinggi.
"Kalau yang diterima perajin naik terus, antara minimal Rp 8.500-11.000 per kg di tingkat perajin," kata Aip.
(hen/hds)










































