Dampak Pemberantasan Illegal Fishing Harga Ikan Bisa Turun 10%

Dampak Pemberantasan Illegal Fishing Harga Ikan Bisa Turun 10%

- detikFinance
Rabu, 24 Des 2014 18:02 WIB
Dampak Pemberantasan Illegal Fishing Harga Ikan Bisa Turun 10%
Jakarta - Aksi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memberantas ilegal fishing atau pencurian ikan memicu pasokan ikan meningkat. Dampaknya, pada harga ikan yang bisa turun 5%-10%.

‎Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Ikan Thomas Darmawan mengakui harga ikan kini cenderung turun karena nelayan mendapatkan pasokan ikan lebih banyak.

"Iya harga ikan memang turun gara-gara nelayan dapat ikan lebih banyak. Karena harga itu kan ditentukan supply dan demand, itu karena supply-nya banyak," tutur Thomas kepada detikFinance, Rabu (24/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Thomas menuturkan, salah satu penyebabnya adalah moratorium kapal-kapal besar dan pemberantasan ilegal fishing yang dilakukan Menteri Susi. Menurutnya, potensi ikan yang awalnya dicuri oleh kapal-kapal pencuri ikan tersebut kini menjadi rezeki para nelayan lokal, sehingga pasokan semakin banyak.

"Moratorium itu memang membuat kapal asing takut. Nelayan kecil-kecil jadi tangkap ikan ini. Saya pikir ada," jelasnya.

Selain itu, penyebab harga ikan naik karena adanya supply besar-besaran yang dikeluarkan oleh industri pengolahan ikan.

Thomas mengatakan, ada harapan dari para pelaku industri ketika moratorium dilakukan, maka akan banyak ikan-ikan jenis baru masuk ke industri, sehingga ikan yang ada di tempat penyimpanan industri dikeluarkan ke pasar.

"Ikan yang digudang ini dikeluarkan. ‎Industri anggota saya kalau memang moratorium ini mengharapkan berefek masuknya ikan baru, sehingga ikan lama dijual dulu," paparnya.

Thomas menyebut, harga ikan bisa turun 5%-10%, dan selalu fluktuatif tergantung permintaan di pasar. "Bisa 5%-10%, tergantung supply dan pasar, agak sulit diprediksi (tepatnya)," katanya.

Ia mengakui, dalam beberapa bulan terakhir, komoditas ikan menyumbangkan deflasi, terutama untuk jenis ikan bandeng dan kembung.

"Yang jadi indikator deflasi itu cuma dua, yaitu bandeng dan kembung. Karena itu yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat kita. Konsumsi ikan per kapita kita sekarang itu 35 kg per kapita per tahun," tuturnya

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads