Sistem ini dapat memberikan informasi kondisi keuangan BUMN yang mencakup 13 indikator rasio keuangan yang mencakup 6 pengukuran kinerja yaitu likuiditas, pengelolaan aset, pemenuhan kewajiban, profitabilitas, arus kas, dan tingkat kesehatan keuangan.
"Nantinya EWS akan memberikan informasi terkait kondisi suatu BUMN dari empat kriteria yaitu sangat bagus, bagus, cukup bagus, dan tidak bagus," jelas keterangan tertulis Kemenkeu, Kamis (25/12/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan EWS, apabila ditemukan BUMN dengan kondisi yang rawan, maka ditjen kekayaan negara akan memperingatkan perseroan melalui kementerian BUMN," jelas Kemenkeu.
Harapannya dengan sistem ini, dapat mengambil langkah antisipatif untuk mencegah kondisi yang lebih buruk. Keberadaan EWS akan menjadi salah satu alat bantu bagi pemerintah dalam membuat kebijakan terkait pengelolaan BUMN dan pelaporan investasi pemerintah.
"Sistem ini dibangun agar permasalahan yang menimpa PT Merpati Nusantara Airlines tidak terulang kembali terkait masalah operasional, finansial, dan tata kelola perusahaan," jelas Kemenkeu.
Merpati telah setop operasi sejak Februari 2014. Penghentian ini dipicu kesulitan keuangan dan beban utang yang menumpuk.
Utang Merpati ditambah akumulasi bunga telah tembus Rp 8 triliun, sedangkan total aset hanya sebesar Rp 1,5 triliun. Namun aset tersebut semuanya sudah diagunkan alias digadai kepada kreditor jadi praktis Merpati tidak punya aset untuk ditawarkan.
Program restrukturisasi Merpati diklaim sebagai penyelamatan BUMN tersulit di era Jokowi.
Program restrukturisasi Merpati sekarang dipegang oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero). PPA menerima penugasan Menteri BUMN untuk menyehatkan Merpati. Setidaknya ada 6 BUMN yang ditugaskan kepada PPA untuk disehatkan, salah satunya adalah Merpati.
(mkl/hen)











































