Misalnya pertumbuhan ekonomi, yang diasumsikan 5,5%. Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan, menyebutkan pertumbuhan ekonomi 2014 kemungkinan hanya mencapai 5,1%.
"Ini baru angka sementara. Tapi proyeksi paling tinggi adalah 5,1%," kata Bambang dalam jumpa pers di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (5/1/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang diasumsikan Rp 11.600/US$ realisasinya Rp 11.878/US$. "Lebih lemah dari rata-rata setahun," ujar Bambang.
Dia menilai, melemahnya rupiah lebih disebabkan faktor eksternal. Penguatan dolar AS yang cukup kuat juga terjadi terhadap mata uang utama dunia sepanjang 2014.
Untuk harga minyak mentah Indonesia (ICP), lanjut Bambang, dari asumsi US$ 105/barel realisasinya hanya US$ 97/barel. Selama 2014, harga komoditas (termasuk minyak) memang cenderung turun.
"ICP dari US$ 105/barel realisasinya cuma US$ 97/barel, jadi lebih rendah US$ 8. Ini mengurangi anggaran subsidi BBM, tapi juga mengurangi penerimaan," kata Bambang.
Sementara produksi siap jual (lifting) minyak tidak mencapai asumsi 818.000 barel/hari. Realisasinya hanya 794.000 barel/hari. Sedangkan lifting gas realisasinya 1,2 juta barel/hari, sesuai dengan asumsinya.
(hds/hen)











































