Sejak November 2013, karyawan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) tak dapat gaji. Mereka yang masih bertahan bekerja di maskapai pelat merah ini harus memutar otak demi dapat uang.
Seperti seorang pilot Merpati yang tak lagi mengudara, Captain Adi Avianto, memanfaatkan posisinya sebagai Managing Director SBU Merpati Training Centre untuk mengajar pelatihan pilot, Flight Operation Officer (FOO), Flight Attendant dan lain-lain.
Dia bercerita, Merpati memiliki tempat pelatihan yang disebut Merpati Training Centre. Contohnya untuk FOO, MTC tersebut setiap tahunnya bisa membuka 6-8 kelas yang setiap kelasnya berjumlah 20 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku sudah tak dapat gaji pokok dari induk perusahaan Merpati. Selama ini dia menggantungkan pendapatannya dari bayaran yang dia dapatkan menjadi tenaga pengajar.
"Kita merekrut orang luar, pendapatannya dari situ. kita juga menginginkan Merpati hidup lagi," tambahnya.
Sementara itu, GM Operation Training MTC, Ramdhani menuturkan, untuk mengikuti pelatihan menjadi FOO di MTC ini, satu orang dikenakan biaya sebesar Rp 35 juta, dari awal hingga lulus.
"Kalau di sini Rp 35 juta sampai selesai," jelasnya.
Dari situlah mereka menggantungkan rezekinya, karena sudah setahun lebih mereka tak mendapatkan gaji dari perusahaan.
Meski begitu, tak sedikit karyawan Merpati lain yang bekerja dengan sukarela. Mereka mengaku masih ingin bekerja di Merpati dan berharap ada kejelasan dari pemerintah terkiat status tempat bekerjanya kini.
"Sudah setahun tak digaji. Tapi setiap hari masuk, karena tanggung jawab moral saya. Saya juga tak ada kerjaan sampingan," tutur salah seorang karyawan.
(zul/ang)











































