Menhub Jonan: Kita Mau Industri Penerbangan Sehat, Bukan Murah

Menhub Jonan: Kita Mau Industri Penerbangan Sehat, Bukan Murah

- detikFinance
Kamis, 08 Jan 2015 17:20 WIB
Menhub Jonan: Kita Mau Industri Penerbangan Sehat, Bukan Murah
Jakarta -

Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan menegaskan aturan tiket penerbangan murah 40% dari batas atas dilakukan untuk menyehatkan industri penerbangan tanah air. Jonan tak ingin faktor keselamatan penumpang terabaikan dengan pemasukan maskapai yang pas-pasan.

"Kita maunya industri penerbangan kita harus sehat, bukan harus murah. Bagaimana caranya? Kalau murah, banyak hal-hal yang tidak dilaksanakan. Kalau sampai menyangkut masalah kesalahan bagaimana?" Ujar Jonan di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2015).

Menurutnya, di undang-undang (UU) Indonesia tidak ada yang namanya low cost carrier (LCC), tapi kalau istilah maskapai sederhana ada. Nah, pengetatan harga tiket murah ini juga dilakukan untuk semua maskapai, tanpa pandang bulu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berlaku semua. Tidak ada itu LCC, itu kan bisnis. Itu komersial saja lah," ujarnya.

Bahkan, tambah Jonan, ketika ia bertugas di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) batas harga tiket dari batas atas itu 50%. Makanya langsung Jonan sesuaikan menjadi 30%.

"Saya kasih contoh, tiket kereta api yang kelas eksekutif kan tidak diberi makan, cuma tempat duduknya sama dengan kelas ekonomi pesawat. Jakarta-Surabaya itu 9,5 jam harganya Rp 350-450 ribu. Sekarang anda cek, kalau ada pesawat Jakarta-Denpasar harganya Rp 300-400 ribu apa itu masuk akal? Wong kereta api itu untungnya hampir tidak ada," tutur Jonan.

"Coba tanya AirAsia dan Garuda, rugi tidak operasinya selama ini? Kalau rugi terus bahaya. Kalau tutup mending, kalau jalan terus, kan pasti banyak yang dikorbankan," jelas Jonan.

Sayangnya, akibat kurs dolar AS yang menguat tinggi sekali terhadap rupiah maka batas bawah terpaksa dinaikkan menjadi 40% dari batas bawah.

"Airlines itu butuh perawatan. Biaya operasinya sangat terkait dengan mata uang asing baik itu euro maupun dolar AS. Kalau ini tidak disesuaikan pelayanan akan jadi turun. Kalau pelayanan turun mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau maintenance turun, nah terus apa?" tutur Jonan.

Belum lagi harga avtur yang naik tinggi gara-gara pelemahan rupiah. Sementara pendapatan maskapai dalam negeri dalam bentuk rupiah, sehingga membuat selisih yang sangat besar antara omzet dan biaya operasional.

"Kami bertugas untuk membuat regulasi supaya meminimalisir kecelakaan. Kecelakaan masih bisa terjadi, hanya gusti Allah yang bisa jamin selamat," kata Jonan.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads