Padahal, 10 tahun sebelumnya hal ini benar-benar bertolak belakang. Saat itu, ada salah satu terminal di Bandara Soetta yang sangat sepi pergerakan pesawat dan penumpang.
"Saya tercengang. Pada tahun 2003, jumlah penumpang baru 8 juta penumpang. Terminal (salah satu terminal) sudah kayak kuburan, sepi penumpang dan pesawat. Terminal itu hanya dipakai terminal haji. Sekarang justru jadi bandara tersibuk nomor 3 di Asia," kata Mantan Dirut PT Angkasa Pura II (Persero) Edie Haryoto pada acara seminar ASEAN Open Sky di Graha Angkasa Pura I, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (12/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terbang Jakarta-Yogya hanya 50 menit. Tapi antre di apron hingga tunggu take off bisa 2 jam. Jika antrean ini dialami menteri, anggota DPR, penentu kebijakan, pasti ada kebijakan baru. Kalau masyarakat biasa hanya bisa menggerutu," jelasnya.
Edie juga menyoroti rencana pengembangan bandara-bandara besar RI, termasuk Bandara Soetta. Meski pengembangan bandara belum selesai tetapi diproyeksikan kapasitas bandara belum mampu menutup kekurangan kapasitas hingga 5 tahun ke depan.
"Sekarang over capacity, bahkan pada tahun 2020 masih ada over capacity. Sekarang saja di 2015 sudah over capacity. Kenapa nggak dibikin menutup itu hingga tahun 2020," sebutnya.
(feb/ang)











































