BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi RI 2005 Bisa Capai 5,5 %
Kamis, 27 Jan 2005 15:10 WIB
Jakarta - Bank Indonesia optimis Indonesia bisa mencapai target pertumbuhan 5,5 persen pada tahun 2005, meski di satu sisi perbankan Indonesia masih rentan terhadap faktor eksternal dan internal. Demikian disampaikan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah disela-sela Seminar Evaluasi dan Prospek ekonomi dan bisnis Syariah di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (27/1/2005)."Oleh karena itu, upaya menstabilkan makro ekonomi harus tetap dilanjutkan. Jadi BI bertugas di sisi moneter. Faktor eksternal dan internal dibuat sedemikian sehingga stabilitas makro ekonomi bisa terjaga," kata Burhan. Untuk jangka menengah, lanjut dia, tingkat inflasi sebagai indikator stabilitas dipertahankan pada level yang comparable dengan negara tetangga dan pada jangka panjang, tingkat inflasi comparable dengan inflasi dunia. "Dengan demikian perekonomian kita menjadi kompetitif dengan perekonomian dunia. Perekonomian Indonesia punya daya saing, jangan jadi pasar dari negara lain, tetapi bagian dari negara yang memproduksi itu," kata Burhan.Menurutnya, perekonomian Indonesia bisa tumbuh lebih besar karena ditunjang dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup baik. Akan tetapi perekonomian Indonesia masih ada kelemahan diantaranya iklim invsasi yang kurang kondusif. Selain itu juga ekspor Indonesia yang kembali mengarah ke ekspor industri primer yaitu pertanian dan tambang. Sementara negara lain bisa mengarah ke industri tersier atau jasa. "Indonesia belum kembali pada potensi yang dimiliki," tegasnya.BI, lanjut dia, akan tetap mengeluarkan Kebijakan-kebijakan baik untuk memperbaiki masalah internal kontrol, governance dan juga pengawasan di BI sendiri. "Itu kebijakan yang akan terus dijalankan, dimana pada tahun 2008 kalau kita berhasil menerapkan basel II yang merupakan komitmen internasional, itu merupakan milestone," kata Burhan.Kebijakan yang lain baik dari pengelolaan, pengawasan, manajemen dan konsolidasi perbankan tetap akan terus ditingkatkan.Perbankan SyariahMengenai perbankan syariah Burhanuddin optimis bisa lebih berkembang khususnya dengan adanya peraturan baru dari BI yaitu penghapusan BMPK penyertaan bagi bank. "Dengan adanya peraturan penghapusan BMPK dengan bank yang akan melakukan penyertaan bagi bank lain. Ini merupakan kesempatan bagi bank untuk membuka unit syariah," tegasnya.Ia mencontohkan misalnya bank konvensional A, bisa melakukan penyertaan di bank syariah tanpa dibatasi BMPK. "Dimasa lalu batasnya 10 persen, sekarang tidak ada lagi," demikian Burhan.
(qom/)











































