Tiket Pesawat Murah Dibatasi, Maskapai Bisa Untung dan Bersaing

Tiket Pesawat Murah Dibatasi, Maskapai Bisa Untung dan Bersaing

- detikFinance
Selasa, 13 Jan 2015 14:07 WIB
Tiket Pesawat Murah Dibatasi, Maskapai Bisa Untung dan Bersaing
Foto: Reuters
Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan baru saja memperketat harga tiket murah untuk angkutan udara. Alasan utamanya ialah faktor keselamatan.

Kebijakan Jonan ini dinilai sebagai upaya untuk memperbaiki kinerja maskapai keuangan dalam negeri. Menurut Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagyo, selama ini marjin keuntungan di dunia penerbangan sangat tipis sehingga banyak maskapai yang mencatat rugi.

Kerugian terjadi akibat beban operasional yang sangat mahal tapi tidak diimbangi dengan omzet yang besar. Bagaimana mau omzet besar kalau menjual tiket selalu harga promo serendah-rendahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka dari itu pemerintah mengkhawatirkan alokasi biaya atau ruang financial yang cukup bagi maskapai untuk membiayai item-item keselamatan penerbangan karena maskapai tidak punya untung.

"Menteri kita kan orang akuntan. Dia menghitung dan mengaudit maskapai ternyata nggak ada yang untung. Akhirnya Pak Jonan tanggung jawab, kalau maskapai nggak melakukan perawatan itu bahaya. Keputusan ada di dia," kata Agus saat Seminar ASEAN Open Sky di Graha Angkasa Pura I, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (13/16/2015).

Agus sendiri sudah memberi masukan kepada Jonan agar memperhatikan keberlangsungan maskapai LCC pasca penetapan tarif batas bawah 40% dari tarif batas atas.

"Hati-hati jangan buat airlines kolaps. Nanti justru ada airlines dari luar yang ambil pangsa pasar di sini. Jangan sampai juga, penumpang dirugikan," jelasnya.

Agus sendiri berpandangan tidak ada kaitan antara tiket murah dan keselamatan penerbangan. Alasannya ialah tiket murah dijual jauh-jauh hari. Tiket tersebut hanya dijual hanya terbatas. Artinya tiket murah hanya bagian dari strategi komunikasi pemasaran.

"Itu yang jual paling 1-2 seat. Ada yang dijual lebih mahal dari full service. Di LCC juga sangat ketat, nggak boleh ganti penerbangan atau kalau terlambat tiketnya hangus," jelasnya.

Meski demikian, ia menghormati keputusan Jonan sebagai regulator. Jonan kepada Agus juga menyebut regulator sudah mempertimbangkan penilaian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait adanya potensi praktik kartelisasi dari pengaturan harga tiket oleh regulator.

"Pak Jonan juga sudah mempertimbangkan keputusan KPPU yang dulu," jelasnya.

(feb/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads