"Ini kunjungan ke-2 saya ke Indonesia sejak saya jadi presiden ADB April 2012. Hubungan baik dengan Indonesia, dan saya hari ini akan bertemu Presiden Jokowi dan pejabat lainnya. Saya sudah ketemu Menkeu Bambang (Brodjonegoro) semalam," kata dia saat ditemui di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa (13/1/2015).
Nakao mengatakan, pihaknya ingin berdiskusi soal demokrasi di Indonesia. Menurutnya, proses demokrasi di Indonesia saat ini patut diapresiasi karena bisa berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nakao mengungkapkan, dengan proses demokrasi yang terbuka akan memudahkan investasi asing masuk ke Indonesia. Dengan begitu, akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.
"Di Asia ada gagasan baru tentang betapa pentingnya reformasi. Reformasi harus terbuka dan membuka jalan ekonomi yang berkenaan dengan perdagangan dan investasi dan menggeser birokrasi yang tidak diperlukan dan juga mengundang lebih banyak investasi asing untuk membuat iklim investasi lebih baik lagi, baik untuk investasi domestik dan asing," jelas dia.
Lebih jauh dia menjelaskan, kebijakan Jokowi soal penghapusan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium menjadi daya tarik bagi investor asing.
"ADB mencatat bahwa pemerintahan Jokowi ini telah mengurangi subsidi BBM. Ini karena bisa menghemat uang banyak untuk pembangunan infrastruktur dan langsung membantu mereka yang membutuhkan," terang dia.
"Kenyataannya, subsidi BBM dinikmati orang mampu. Jadi ini (menghapus subsidi BBM) kemajuan yang sangat baik. Kami mencatat banyak reformasi termasuk sistem yang lebih liberal untuk investasi langsung seperti transportasi dan bidang lainnya," kata dia.
Nakao menyebutkan, ADB tertarik untuk membantu dalam pembiayaan infrastruktur di Indonesi. Misalnya dalam pembangunan jalan, jalur kereta api, irigasi, dan sebagainya.
"Jadi kita mendukung pembangunan infrastruktur ini," ujarnya.
(drk/hds)











































