Capai Pertumbuhan Ekonomi 6,6 %, Industri Harus Tumbuh 8,6 %
Jumat, 28 Jan 2005 16:29 WIB
Jakarta -
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,6 persen maka sektor industri harus mampu tumbuh 8,6 persen per tahunnya. Untuk mencapai pertumbuhan industri itu, maka pemerintah akan memprioritaskan 10 sektor industri. Demikian Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja setelah meresmikan program Pemagangan di Kawasan industri MM 2100 di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/1/2005)."Demi mencapai target pertumbuhan ekonomi 6,6 persen maka departemen industri sedang menggalakan sektor industri menjadi 8,6 persen rata-rata pertahunnya, dengan prioritas10 sektor yaitu selain resource base ada kelapa sawit, hasil hutan, alas kaki, petrokimia, mesin-mesin listrik, TPT, karet, kayu dan elektronik," papar Andung. Andung menambahkan, 10 sektor yang menjadi prioritas tersebut adalah sektor yang menyerap banyak tenaga kerja, kebutuhan dasar, ekspor serta bersumber daya alam baik agro maupun maupun pertambangan. "Dua minggu lagi industrial policies akan keluar, berdasarkan Rencana Jangka Panjang Menengah (RJPM) pemerintah," ujarnya.Menurut Andung, pemerintah sedang menggalakan daya saing dalam negeri dan luar negeri yang merupakan tugas bersama pemerintah dan pelaku usaha. Dengan demikian diharapkan tercipta iklim investasi yang baik dan biaya ekonomi bisa turun dengan melakukan efisiensi eksternal dan internal. Ketika ditanya mengenai 100 hari kinerja, Andung menjelaskan salah satunya yang cukup penting adalah harmonisasi tarif yang dilakukan departemennya selama bulan lalu. Program ini menurut Andung diharapkan bisa menciptakan daya saing. Selain itu pihaknya juga telah mereview kembali sistem perpajakan dan insentif perpajakan pengusaha dan menyiapkan tenaga siap pakai yang menghasilkan karyawan produktivitas dan disiplin.Berkaitan dengan rencana pembentukan holding BUMN oleh pemerintah, Andung menilainya sebagai suatu langkah untuk mencapai efisiensi. "Holding BUMN bagus, dulu pun saya pernah berpikir tentang adanya holding yang akan membuat efisien penyediaan barang dan jasa serta prinsipnya mengurangi subsidi," ujarnya. Menurutnya holding BUMN tidak akan menciptakan praktek monopoli. "Secara sektoral indostri khusus BUMN saya yang bertanggung jawab dengan berkoordinasi dengan menteri BUMN namun untuk Holding jangkar saya tidak tau karena ditentukan kementerian BUMN. Yang penting adalah meningkatkan efisiensi dan kualitas karena ciri utama kemajuan adalah tersedianya barang yang lebih bagus, cepat dan murah," tambahnya.Ia mencontohkan di AS, pabrik gas di monopoli, karena pabrik lebih dari satu tidak cukup untuk skala ekonomi. "Monopoli boleh tapi harga tetap di set pemerintah. Bedakan antara monopoli dan praktek monopoli," tegasnya.Mengenai industri di bidang pertahana, Andung mengungkapkan, ada rencana untuk pelaksanaannya dilakukan oleh Departemen Perindustrian. "Karena apapun yangbisa diindustrikan di dalam negeri akan dilakukan seperti penyediaan senjata, kapal laut dan kapal terbang," ujarnya.Program Pemagangan Kawasan Industri MM 2100Dalam kesempatan itu Andung meresmikan program pemagangan tahap pertama dengan peserta 150 orang, untuk diberdayakan di kawasan industri MM 2100 (PT. Megapolis Manunggal Industrial Development 2100) dengan lokasi pabrik Astra Honda Motor dan PT. Argo Pantes."Program ini merupakan tahap pertama salah satu hasil dari Munas Himpunan Kawasan Industri (HKI) untuk penyediaan calon tenaga kerja terampil di sektor industri dengan target bisa menghasilkan 25.000 sampai 50.000 orang calon tenaga kerja pertahunnya, nanti akan ada pemagangan di kawasan industri lainnya Adung dalam sambutannya.Hingga saat ini terdapat 203 kawasan industri dengan luas 67.000 Ha, dan baru beroperasi 64 kawasan dengan total area 20.000 Ha dan rata-rata tingkat pemanfaatan 44 persen.
(qom/)










































