Hari ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menerima para anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan perwakilan pelaku usaha perikanan di kantornya. Namun dalam pertemuan tersebut terjadi perdebatan seru antara mantan bos Susi Air tersebut dengan beberapa pengusaha seperti pembudidaya lobster.
Beberapa perwakilan pelaku usaha yang hadir antara lain dari Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin), Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo), serta Asosiasi Perikanan Pole and Line dan Handline Indonesia (AP2HI).
Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 10.15 WIB, membahas aturan moratorium dan larangan transhipment atau bongkar muat di laut yang ada di Permen KP 56/2014 dan Permen KP 27/2014. Pertemuan ini sempat menjadi ajang debat antara Menteri Susi dengan Ketua Abilindo Steven Hadi Tarjanto, juga Edi Yowono dari Astuin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat mengerti apa yang Ibu telah urai. Kami mohon kapal pembeli dari luar bisa masuk dan membeli hasil kami. Kalau tidak 2-3 bulan kita kolaps sendiri, tidak ada yang beli. Kami minta agar bisa kapal ini datang membeli," keluh Steven kepada Susi di Gedung Mina Bahari I, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Kamis (22/01/2015).
Mendengar keluhan itu, Susi lantas langsung merespons dengan melontarkan pertanyaan balik.
"Kenapa mereka tidak dibawa ke pelabuhan. Maksudnya dari tambak itu dibawa ke pelabuhan?" tanya Susi kepada Steven.
Steven beralasan peternak atau pembudidaya lobster saat ini belum memiliki kapal pengangkut untuk mengirim hasil ikan budidaya dari tambak ke pelabuhan.
"Kami memang tidak punya kapal," jelas Stevan.
Seolah tidak mau menerima begitu saja alasan Steven, Susi langsung menyampaikan pertanyaan balik lagi.
"Sekarang kalau mengembangkan bisnis baru di sektor perikanan itu open. OJK melihat ini sebuah bisnis. Mereka mau guyurkan Rp 60 triliun karena melihat policy saya. Bapak nanti terpacu dan tinggal menetukan check point," papar Susi.
Mendengar jawaban Susi, Steven menyambut balik usulan dari Susi. Namun yang dibutuhkan adalah kepastian para pembudidaya yang sedang panen dan belum bisa memasarkan hasil perikanannya.
"Itu bagus Bu, Tapi kasih kami hidup dulu lalu nanti kita tentukan dimana port-nya. Kalau hanya satu pihak yang menginginkan itu seluruh anggota kita gulung tikar," tegas Steven kepada Susi.
Mendengar pernyataan Steven soal ancaman gulung tikar, Susi mulai geram. Ia menegaskan tidak akan mengubah aturan karena kebijakan yang ia keluarkan tidak untuk mematikan pelaku usaha sektor perikanan.
"Kalau ini saya buka, maka seperti HAI FA (kapal pengumpul) minta juga dibuka. Saya tidak bisa tarik policy yang saya buat. Ini moral hazard bisa hancur semua perang kita di Arafura. Saya tidak akan menerima pernyataan bapak yang mengatakan kebijakan saya mematikan ratusan ribu pengusaha. Saya tidak bisa membatalkan policy yang sudah benar," tegas Susi dengan nada tinggi.
(wij/hen)











































