Baru sekitar 3 bulan menjabat, Susi memang telah merilis sejumlah kebijakan terobosan. Meski menuai pujian, ada pula sejumlah pihak yang mengkritik kebijakannya. Salah satunya adalah para pengusaha.
Jumat (23/1/2015), detikFinance mencoba merangkum serunya sahut-sahutan Susi dengan para pengusaha tersebut:
1. Debat Dengan Pengusaha Tuna
|
|
"Kita ekspor tuna fresh butuh kecepatan. Dengan larangan transhipment, tolong carikan solusi ke kami," kata Edi.
Susi pun langsung menjawab. "Dari main port (pelabuhan) saja, Pak," ucapnya.
Edi yang merasa kurang puas kemudian bertanya kembali dengan nada tinggi. "Justru dari fishing ground ini ke port tidak efisien. Kami biasa menitip dan bawa ke darat," tegasnya.
Susi menjawab lagi dengan nada sindiran. "Kalau ke darat, it's okay," jawab Susi singkat.
2. Debat Dengan Pengusaha Kepiting
|
|
Pengusaha kepiting, lanjut Susi, protes dengan kebijakan pelarangan menangkap kepiting dan rajungan yang sedang bertelur. Debat pun tidak terhindarkan.
"Tadi saya berdebat dengan pembiak kepiting rajungan," ujar Susi. Berikut debat di antara mereka seperti yang dituturkan Susi:
Susi: Rajungan dari mana?
Pengusaha: Dari induk.
Susi: Induk dari mana?
Pengusaha: Dari bibit.
Susi: Bibit dari mana?
Pengusaha: Dari alam.
Susi: Alam dari mana?
Pengusaha: ... (tidak menjawab).
"Mereka nggak bisa jawab. Ketahuan kan? Kita nggak bisa produksi bibit yang dibuat dari tepung dicampur telur kan? Nggak bisa kan? Kita nggak bisa produksi bibit pakai tepung. Makanya yang ada di alam itu harus dilestarikan," kata Susi.
3. Debat dengan Pengusaha Lobster
|
|
Ketua Abilindo Steven Hadi Tarjanto keberatan dengan aturan Susi yang melarang kapal asing membeli lobster hasil budidaya langsung ke tambak. Kapal asing itu hanya boleh membeli di pelabuhan utama. Perdebatan pun tak terelakkan.
"Kami sangat mengerti apa yang Ibu telah urai. Kami mohon kapal pembeli dari luar (kapal asing) bisa masuk dan membeli hasil kami. Kalau tidak 2-3 bulan kita kolaps sendiri, tidak ada yang beli. Kami minta agar bisa kapal ini datang membeli," keluh Steven kepada Susi.
Susi lantas langsung merespons dengan melontarkan pertanyaan balik. "Kenapa mereka tidak dibawa ke pelabuhan? Maksudnya dari tambak itu dibawa ke pelabuhan?" katanya.
Steven beralasan peternak atau pembudidaya lobster saat ini belum memiliki kapal pengangkut untuk mengirim hasil ikan budidaya dari tambak ke pelabuhan. "Kami memang tidak punya kapal," ujar dia.
Susi langsung menyampaikan pertanyaan balik lagi. "Sekarang kalau mengembangkan bisnis baru di sektor perikanan itu open. OJK melihat ini sebuah bisnis. Mereka mau guyurkan Rp 60 triliun karena melihat policy saya. Bapak nanti terpacu dan tinggal menentukan check point," jelasnya.
Steven pun meminta kepastian para pembudidaya yang sedang panen dan belum bisa memasarkan hasil perikanannya. "Itu bagus, Bu. Tapi kasih kami hidup dulu lalu, nanti kita tentukan di mana port-nya. Kalau hanya satu pihak yang menginginkan itu seluruh anggota kita gulung tikar," tegas Steven.
Halaman 2 dari 4










































