Dialog antara MenteriΒ Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan para pembudidaya/nelayan lobster dari Lombok, NTB dan para anggota DPRD NTB di ruang GMB I Kantor Pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jalan Merdeka, Jakarta Pusat, berakhir dengan suasana tegang.
Bahkan dialog yang berlangsung kurang lebih 2,5 jam sejak pukul 10.00 WIB, sempat membuat Menteri Susi marah besar hingga wajahnya merah.
Marahnya Menteri Susi, bukan tanpa sebab, hal ini terjadi ketika di akhir-akhir dialog seorang perwakilan nelayan/pembudidaya lobster kembali mengeluhkan soal kebijakan Menteri Susi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ada tekanan dari nelayan bibit, kami sekarang susah berdiri di dua sisi. Nelayan kami menuntut kami 'ayo dong beli, pokoknya beli kepada siapa pun', jadi gimana Bu?" Tanya Lalu Tamala mengeluh kepada Susi, Jumat (23/1/2015)
Mendengar keluhan tersebut, Susi dengan nada tinggi langsung terlihat marah. Marahnya Susi kali ini, tak biasanya karena wajahnya sampai merah.
"Kalau rapat kali ini deadlock, saya tak akan mundur (menarik peraturan). Peraturan menteri yang saya buat ini untuk melindungi nelayan, untuk melindungi bisnis bapak-bapak ini," tegas Susi dengan nada tinggi, sehingga membuat suasana rapat jadi hening
Selama ini ekspor benih lobster memang kerap dilakukan nelayan di NTB ke Vietnam untuk keperluan budidaya. Vietnam mengembangkan 3 spesies lobster budidaya dari NTB yaitu lobster pasir (Panulirushomarus) dan lobster mutiara (Panulirus ornatus).
Strategi Vietnam mengimpor benih lobster dari Indonesia, justru sangat menguntungkan. Pelaku usaha di Vietnam sukses mengembangkan budidaya lobster di negaranya, dengan nilai tambah yang berlipat-lipat.
Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Barat (NTB), di Lombok ada 2.000 orang yang bergerak di bidang usaha lobster. Pendapatan per tahun diperkirakan mencapai Rp 200 miliar.
(hen/hds)











































