Ini Wanita yang Berani Bersahutan dengan Jokowi

Ini Wanita yang Berani Bersahutan dengan Jokowi

- detikFinance
Senin, 26 Jan 2015 11:49 WIB
Ini Wanita yang Berani Bersahutan dengan Jokowi
Jakarta -

Saat meresmikan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat sahut-sahutan dengan seorang wanita. Ini karena perizinan pembangunan pembangkit listrik yang berbelit.

Wanita itu adalah Lissa Imelia, Direktur Utama PT Global Karya Mandiri. Lissa berada di kantor pusat BKPM untuk mengurus izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Global Karya Mandiri memang memenangkan lelang pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Fotovoltaik di Kotabaru, Kalimantan Selatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perizinan memang lama banget. Apalagi kalau sudah masuk ke pemerintah daerah," jelas Lissa di kantor BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (26/1/2105).

Lissa mengatakan, sudah urus perizinan di pemerintah daerah bisa berbulan-bulan lamanya, karena ada izin bertingkat.

"Jadi sudah izin ke provinsi, lalu ke kabupaten ada izin lagi. Dari kabupaten mesti urus izin lagi ke kecamatan. Ini yang bikin lama. Tapi kalau di BKPM pusat, PTSP kan sudah mulai jalan. Mudah-mudahan lebih cepatlah," tutur Lissa.

Dia berpesan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi), agar perizinan di daerah tidak dilupakan, karena perizinan di daerah juga lambat.

"Kan kita ingin membangun daerah juga. Kalau tidak dapat dukungan dari perizinan, kapan kita mau mulai bangun, kapan daerah mau berkembang. Soalnya semuanya kuncinya perizinan," jelas Lissa.

"Makanya saya bilang begitu ke Presiden. Salah satunya saya juga bilang tuh tadi, izin daerah juga dong Pak. Pak Jokowi jawab, ya saya kan juga sering blusukan ke daerah, jadi saya tahu kondisi di daerah. Itu yang saya minta juga ke kepala BKPM," papar Lissa menggunakan batik dan jilbab coklat.

Sebelum menjalankan bisnis pembangkit listrik, Lissa mengatakan, dirinya pernah terjun menjadi importir alat-alat kesehatan. Namun, perizinan yang sangat banyak dan berbelit-belit membuat usahanya di sektor kesehatan ini tidak berkembang.

"Masalah terberatnya terutama di izin edar alat. Sudah begitu, dipreteli izinnya per masing-masing alat (satu alat satu izin). Padahal alat itu kan satu paket, misalnya ada jarum ada gunting dan sebagainya. Itu kita jual ke pelanggan satu paket. Tapi mengurus izinnya masing-masing item. Makanya lama banget," kisah Lissa.

(dnl/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads