Ketua Komisi XI DPR, Fadel Muhammad mengatakan, setelah lobi politik yang panjang di DPR, muncul kesepakatan soal asumsi makro untuk RAPBN-P 2015 yang akan dijalankan oleh pemerintah pimpinan Joko Widodo (Jokowi).
Berikut hasilnya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Pertumbuhan ekonomi 5,7%, turun dari usulan pemerintah 5,8%
- Inflasi 5%
- Nilai tukar rupiah Rp 12.500/US$, lebih tinggi dari usulan pemerintah Rp 12.200/US$
- Suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 6,2%
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, ada wacana target pertumbuhan ekonomi 2015 adalah 5,6%-5,8%, karena ada risiko ekonomi global.
Pemerintah tidak mau optimistis dengan pengaruh stimulus dari Bank Sentral Eropa sebesar Rp 15 ribu triliun.
"Tapi (pertumbuhan ekonomi) 5,7% ini membutuhkan extra effort (usaha ekstra) dari belanja APBN dan mengkapitalisasi dampak dari stimulus Eropa dan Jepang," ujarnya.
Selain itu, tingkat pengangguran ditargetkan 5,6%, dan tingkat kemiskinan 10,3% di tahun ini. Rasio gini ditargetkan 0,4%.
"Komisi XI meminta kepada pemerintah untuk menambah alokasi sampai Rp 5 triliun di 2015 bagi kemajuan usaha mikro, kecil, dan menengah untuk tingkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas," jelas Fadel.
Ada 3 kesimpulan lain dalam rapat ini sebagai berikut:
- Komisi XI sepakat untuk dibahas secara khusus untuk PMN (penyertaan modal negara) pada BUMN di 2015
- Komisi XI sepakat lakukan pembahasan lebih lanjut soal pendapatan negara.
- Komisi XI meminta pemerintah untuk penyusunan RKP dan APBN ke depan harus akomodir UU No 6 tentang desa.
(dnl/hen)











































