Para anggota DPR pun bergantian saling memberi pertanyaan kepada dua abdi negara yang didampingi perwakilan BUMN penerima PMN. Rata-rata anggota komisi masih belum yakin bisa memberi izin untuk pencairan dana yang cukup besar itu.
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Nasional Demokrat (NasDem), Donny Imam Priambodo, malah menolak PMN tersebut karena belum yakin manfaat dari tambahan modal tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, selama ini penerimaan RI banyak disumbang dari pajak alias rakyat. Padahal, menurut dia, di negara lain sumbangan BUMN ke negara bisa sangat tinggi.
"Negara lain penerimaan pajak itu 70% dari BUMN, 10% swasta, sisanya rakyat. Kita terbalik, rakyat semua," kata Donny tanpa merinci negara yang dimaksud.
Donny juga meminta pemerintah menjelaskan sudah berapa besar dana yang disuntikkan kepada BUMN dan sudah berapa besar pula manfaatnya yang diberikan kepada negara.
"Dari pertama BUMN dibentuk, modal yang sudah diberikan negara berapa? Dividen yang diterima berapa? Jangan-jangan pemerintah sudah minus karena injak terus ke BUMN," kata Donny.
Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Andreas Eddy Susetyo, juga masih meragukan suntikan PMN tersebut. Ia menyoroti suntikan yang akan diberikan ke PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Menurutnya, bank milik negara tidak akan berkembang pesat jika hanya mengandalkan suntikan dana pemerintah. Apalagi suntikan modal tersebut tidak besar jika dibandingkan modal bank-bank asing yang sudah punya aset ratusan triliun.
"Kalau hanya dengan ingin menjadi qualified bank melakukan rights issue ya tidak akan bisa. Modal Bank Mandiri Rp 91 triliun, Maybank Rp 500 triliun jadi tidak mungkin. Masak cuma nambah Rp 9 triliun bisa langsung menyaingi, jadi Bank Mandiri ini tujuannya mau ke mana?" ujar Andreas.
Sementara Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Amir Uskara, meminta BUMN lebih kreatif dan jangan hanya mengandalkan tambahan modal dari pemerintah.
"Ini persoalan kreativitas, bukan modal yang dicari. Jadi kembangkan setiap modal yang ada," ujar Amir.
Senada dengan Andreas, ia juga menyoroti PMN untuk Bank Mandiri. Ia mempertanyakan penggunaan modal oleh bank pelat merah tersebut.
"Kalau Bank Mandiri disuntik sekian triliun hanya untuk mengangkat peringkat buat apa? Sebenarnya kita ini kekurangan anggaran bukan kelebihan. Masih banyak yang lebih butuh anggaran daripada BUMN itu," kata Amir.
(ang/hds)











































