JK mencontohkan, tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,2%. Padahal situasi 2014 cukup berat.
"Saya ingin menyampaikan yang simple saja. Kalau tahun lalu kita tumbuh 5,2%, pada saat itu semua orang kecewa. Dikatakan triple defisit. APBN defisit, current account (transaksi berjalan) defisit, primary balance (keseimbangan primer) defisit, macam-macam istiahnya. Tapi kita masih tumbuh 5,2%," papar JK kala membuka acara Economic & Market Outlook 2015 di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (29/1/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulai 1 Januari 2015, pemerintah sudah tidak memberikan subsidi kepada bensin Premium. Sementara Solar masih mendapatkan subsidi tetap (fixed subsidy) Rp 1.000/liter.
Kebijakan ini sangat signifikan dampaknya terhadap APBN. Dalam Rancangan APBN Perubahan 2015, subsidi BBM (ditambah bahan bakar nabati dan Elpiji 3 kg) adalah Rp 81,81 triliun. Turun drastis dibandingkan naskah awal APBN 2015 yaitu Rp 276,01 triliun.
"Kalau ini saja kita perbaiki defisitnya, bisa tumbuh. Kepercayaan tumbuh, APBN kita perbaiki, masak tidak bisa tumbuh 6-7% pada 1 hingga 2 tahun yang akan datang?" kata JK.
(hds/hen)











































