Sementara nilai ekspor pada Desember 2014 tercatat US$ 12,62 miliar atau turun 13,83% dibandingkan periode yang sama pada 2013. Sedangkan nilai impor Desember 2014 adalah US$ 14,43 miliar, turun 6,61%.
"Kondisi 2013 memang masih bagus. Secara total, penyebabnya masalah ekonomi global. Misalnya palm oil, terjadi penurunan harga internasional," jelas Suryamin, Kepala BPS, dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (2/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama Januari-Desember 2014, impor non migas terbesar berasal dari Tiongkok yang mencapai US$ 30,46 miliar (22,61%). Disusul Jepang US$ 16,94 miliar (12,57%), Singapura US 10,15 miliar (7,53%), dan Thailand 9,69 miliar (7,2%).
Sepanjang 2014, sebanyak 6 kali neraca perdangan mengalami surplus yaitu pada Februari (US$ 0,84 miliar), Maret (US$ 0,67 miliar), Mei (US$ 0,05 miliar), Juli (US% 0,05 miliar), Oktober (US$ 0,02 miliar), dan Desember (US$ 0,19 miliar).
Defisit perdagangan terjadi pada Januari (US$ 0,45 miliar), April (US$ 1,97 miliar), Juni (US$ 0,29 miliar), Agustus (US$ 0,31 miliar), September (US$ 0,26 miliar), dan November (US$ 0,42 miliar).
(hds/dnl)











































