WTO Diminta Stop Monopoli Cina dalam Perdagangan Tekstil

WTO Diminta Stop Monopoli Cina dalam Perdagangan Tekstil

- detikFinance
Senin, 31 Jan 2005 23:08 WIB
Jakarta - The 3rd International Textile Summit melahirkan 4 kesepakatan yang intinya meminta Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menghentikan monopoli Cina dalam perdagangan tekstil dan pakaian.The 3rd International Textile Summit itu berlangsung pada 26 Januari 2005 di Washington DC yang diikuti 96 Trade Groups dari 54 negara pen-support fair trade, yang salah satu pesertanya adalah Indonesia."Acara itu telah selesai. Semua peserta dan anggota summit menyepakati petisi fair textille trade yang akan dibawa WTO pada bulan Maret pertengahan. Intinya meminta penghentikan monopoli Cina dalam perdagangan tekstil dan pakaian," kata Ketua Asosiasi Produsen Garmen Indonesia (APGI) Natsir Mansyur kepada wartawan di Menara Kadin Indonesia Jl. HR Rasuna Said Jakarta Selatan, Senin (31/1/2005).Diuraikan dia, ada 4 butir kesepakatan. Pertama, pemerintah khususnya AS, Uni Eropa dan Kanada harus secepatnya dan efektif mengimplementasikan WTO, khususnya China Textiles Safeguard untuk mencegah Cina memonopolisasi tekstil dan perdagangannya.Kedua, WTO secepatnya mengambil langkah karena adanya dampak penghapusan sistem kuota dan bagaimana market mendistorsi kegiatan perdagangan dari tangan negara yang memonopolisasinya.Ketiga, WTO harus membuat instrumen permanen yang baru untuk menghindari monopolisasi tekstil di masa datang. Keempat, meminta WTO aktif memonitor dampak ekonomi di negara-negara, dikarenakan penghapusan kuota tekstil."Kesepakatan ini diambil berkaitan penghapusan kuota tekstil yang membuat 30 juta pekerjaan di dunia akan pindah ke Cina. Kontinuitas pembangunan yang fair dan kegiatan perdagangan yang menguntungkan untuk sektor vital ini malah akan mencekik, dikarenakan adanya negara yang melakukan kegiatan perdagangan unfair," tukas Natsir. (sss/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads