Dampak Banjir ke Bisnis: Mal Sepi, Distribusi Barang Terganggu

Dampak Banjir ke Bisnis: Mal Sepi, Distribusi Barang Terganggu

- detikFinance
Selasa, 10 Feb 2015 09:51 WIB
Dampak Banjir ke Bisnis: Mal Sepi, Distribusi Barang Terganggu
Jakarta -

Hujan yang terus menerus mengguyur Jakarta sejak Minggu malam hingga hari ini, menyebabkan Jakarta digempur banjir di beberapa titik. Beberapa akses jalan lumpuh total akibat genangan air yang bervariasi ketinggiannya.

Banjir ini pun mengganggu aktivitas ekonomi dan perdagangan khususnya di Jakarta. Alur distribusi tersendat, hingga konsumen malas pergi ke pusat perbelanjaan atau pun sentra bisnis menjadi keluhan kalangan pengusaha. Belum ada kerugian yang dihitung akibat banjir yang terjadi ini.

Berdasarkan informasi yang dirangkum detikFinance, Selasa (10/2/2015), berikut ragam dampak banjir Jakarta dari sisi dunia usaha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Mal Kian Sepi

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesiaβ€Ž (APPBI) Stefanus Ridwan menuturkan, mal-mal yang beroperasi di tengah gempuran banjir semakin sepi pengunjung. Menurutnya, pengunjung malas untuk datang ke mal-mal karena akses jalan yang lumpuh.

Dia menyebut, mal atau pusat perbelanjaan yang paling terkena dampakβ€Ž dari banjir ini adalah mal yang berada di kawasan Jakarta Utara seperti Mall of Indonesia, Artha Gading, Summarecon Mal, dan lainnya.

2. Distribusi Barang Terganggu

Banjir yang menyebabkan akses jalan yang lumpuh pun berdampak pada kacaunya alur distribusi barang. β€ŽWakil Ketua Kadin DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengatakan, ada beberapa toko yang tutup karena lumpuhnya akses jalan yang dilalui karyawan atau barang distribusi. Sedangkan di kawasan industri seperti di Pulogadung, atau Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, belum begitu terganggu.

"Di Kelapa Gading, Mangga Dua, Jatinegara, Slipi pusat bisnis sudah terkena banjir, sudah mulai menganggu. Sebenarnya, saat ini mereka malnya buka. Tapi banyak juga toko juga yang masih tutup. Banjir itu banyak karyawan tidak sampai, otomatis masyarakat menembus ke sanβ€Ža pun tidak bisa," tuturnya.

3. Tidak Separah 2 Tahun Lalu

Di kalangan dunia usaha, dampak dari banjir yang terjadi kemarin tak separah dengan apa yang terjadi pada 2 tahun lalu. Banjir dan jebolnya Tanggul Latuharhari 2 tahun lalu menimbulkan dampak lebih serius dibanding kemarin.

Ketua APPBI Stefanus Ridwan mengatakan, banjir kali ini tak berkepanjangan. Penanangan banjir menurutnya sudah cukup baik dibanding apa yang terjadi dua tahun lalu di Jakarta.

"Sekarang sudah cukup bagus. Kalau banjir nggak lama. Sehari saja sudah surut kalau banjir yang sekarang. Kalau dulu kan sampai jebol tanggulnya," tutur Ridwan

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Hariyadi Sukamdani mengatakan, pengusaha ritel atau yang bergerak di sektor perdagangan paling merasakan akibat dari banjir dua tahun lalu.

"Yang itu lebih parah, pengaruhnya sangat besar sekali. Nggak terlalu sekarang ini. Dulu ada laporan, yang di ritel. 50% turun pendapatannya. Yang sekarang sih nggak, memang bukannya sering tapi tak separah pas jebol tanggul," tuturnya.

4. Harapan Pengusaha

Pengusaha tak mau banjir terus berulang, karena tak hanya menganggu aktivitas ekonomi dunia usaha, tapi juga menganggu aktivitas masyarakat secara luas. Kalangan dunia usaha sendiri mengharapkan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mencari cara yang lebih ampuh untuk mengantisipasi banjir agar tak datang kembali.

"Perlu banyak kali lagi yang dikeruk. Bukan hanya yang utara saja, yang selatan juga banyak yang kena banjir," tutur Ketua APPBI Stefanus Ridwan.

Hal senada dikatakan Wakil Ketua Kadin Jakarta Sarman Simanjorang. Menurutnya, adanya banjir yang kembali datang ini adalah bukti belum maksimalnya sistem penyerapan air di Jakarta. Ke depan, ini harus menjadi perhatian pemerintah.

"Kita harapkan drainase-nya semakin baik dan bertambah. Agar penyaluran airnya lancar," tuturnya.
Halaman 2 dari 6
(zul/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads