"Yang rugi ada 6 bandara. Kita akan beri insentif airlines (maskapai) untuk terbang ke cabang yang belum untung. Kita beri diskon," kata Direktur Komersial AP II Faik Fahmi, pada acara diskusi di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2015).
Selain memberi diskon, AP II akan menggandeng pemerintah daerah di tempat bandara beroperasi, untuk mendorong promosi daerah, sehingga mampu menaikkan jumlah penumpang pesawat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama AP II Budi Karya Samadi menjelaskan, kerugian 6 bandara di bawah AP II normal terjadi, karena di tahun awal pasca investasi. Selain itu, AP II memandang ada potensi pendapatan di sektor non aero atau di luar sisi udara, yang juga belum dikelola maksimal.
"Kerugian 1 bandara di Indonesia bukan karena kinerja tapi siklus investasi infrastruktur 1-3 tahun merugi. Namun kita menyampaikan ke teman-teman, kalian harus penuh kalkulasi di dalam merancang proyek, agar kalau rugi hanya sementara," sebut Budi.
Sementara itu, Direktur Operasi AP II Djoko Murjatmodjo menjelaskan, landing fee (tarif pesawat mendarat), sangat tergantung pada ukuran, jenis, dan berat pesawat. Tidak hanya itu, landing fee setiap bandara berbeda-beda.
"Landing fee itu beda-beda besarannya. Itu berdasarkan berat pesawat yang mendarat. Ada yang memakai standar berat dikeluarkan pabrik untuk tipe pesawat. Ada juga di bandara yang menaruh timbangan di taxiway. Tapi kita pakai standar berat tipe pesawat," ujar Djoko.
(feb/dnl)











































