Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi mengungkapkan, selama ini banyak konsep yang dicanangkan untuk bisa melakukan swasembada pangan di Indonesia, namun realisasinya tidak mudah.
"Banyak konsep tapi pelaksanaan tidak segampang itu. Kita sudah terlalu lama bicara, food security kita itu saat ini lebih banyak yang kita impor, tidak ada produksi, semua berkurang," ujarnya di acara Jakarta Food Security Summit ke-3, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jumat (13/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah membicarakan kesediaan-kesediaan, tapi kenyataan di lapangan tidak gampang, misalnya soal lahan, nyari 10.000 hektar saja tidak gampang apalagi jutaan, di mana nyarinya, tidak ada tanah yang tidak bermasalah di sini karena banyak calo," katanya.
Hal lain yang juga menjadi masalah adalah soal tingginya impor pangan. Pemerintah dengan berbagai pihak perlu menentukan produk pangan prioritas.
"Harus jelas dulu mana yang prioritas, saya alami 2 bulan lebih di pemerintah ikut rapat-rapat bagaimana bisa swasembada beras, kedelai, jagung, daging, dalam kenyataannya memang tidak gampang. Petani itu lebih miskin daripada buruh-buruh yang minta kenaikan gaji itu. Tempat paling miskin itu pertanian, nelayan, perikanan, dan sektor informal jadi kerja sama pemerintah dan swasta itu penting sekali untuk dukung mereka. Jadi swasembada jangan hanya lip service," katanya.
(drk/hen)











































