"Waktu saya kecil tinggal di Curug, suka sekali jajanan, ada gulali, cilok. Sekarang saya sedih sekali anak-anak beli jajanan di luar yang kebanyakan banyak pengawet," kata Farah di acara Jakarta Food Security Summit-3, di Jakarta Convention Center Senayan, Jumat (13/2/2015).
Tak hanya soal itu, kondisi pasar tradisional di Indonesia dari dulu tidak banyak berubah, becek dan kotor. Kondisi ini sangat memprihatinkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, Farah menyebutkan, banyak produk makanan dalam negeri yang berkualitas tinggi, namun produk-produk tersebut diprioritaskan untuk pasar ekspor.
"Di supermarket banyak produk bertuliskan produk ekspor, kenapa kita tidak dapat yang itu, yang bagus-bagus. Kenapa kita mau menerima makanan berkualitas rendah. Beda sekali sama orang Perancis, mereka keju berkualitas diutamakan untuk mereka," ucap Farah.
Selain itu, Farah mengatakan, masih banyak produk-produk yang masuk pasaran tidak berlabel jelas. Ini membuat ragu konsumen apakah produk yang akan dikonsumsi berkualitas atau tidak.
"Label produknya banyak yang tidak benar, saya kira kementerian harus menegakkan ini karena ini harus aman karena terkait yang dimasukkan dalam tubuh, yang kemasan-kemasan isinya harus sesuai yang ditulis, kita harus tahu apa yang kita makan," paparnya.
Untuk itu, perlu kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak dan penyediaan infrastruktur yang baik seperti penyediaan lokasi pasar tradisional yang layak.
"Meningkatkan infrastruktur dan pasar tradisional untuk kebutuhan dasar, misalnya lantai dan atap yang wajar dan ada lemari es. Jadi bayangkan ketika kita ke pasar yang ada hanyalah produk terbaik, jangan kalah dengan produk Thailand, China. Kita sepakat bahwa penduduk yang sehat akan menuju pada masyarakat yang produktif dan lebih kuat," imbuh Farah.
(drk/ang)











































