Hanya 2 Program Revitalisasi Sektor Pertanian Yang Berjalan
Selasa, 01 Feb 2005 22:17 WIB
Jakarta - Dari 8 program aksi revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan yang dicanangkan SBY, ternyata hanya dua yang dilaksanakan dengan cukup baik. Keenam aksi lainnya terlalu sulit untuk dievaluasi karena bernuansa strategis jangka menengah-panjang."Komitmen SBY untuk revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan dari 8 program aksi departemen pertanian hanya dua yang terlaksana cukup baik," kata Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI) Noer Soetrisno dalam acara diskusi PERHEPI menyikapi pembangunan pertanian 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu di Hotel Aryaduta, Jl. Prapatan, Jakarta, Selasa (1/2/2005). Noer menjelaskan, kedelapan program itu adalah mencegah KKN; mengamankan ketersediaan bahan pangan menghadapi hari-hari besar keagamaan; memfasilitasi persiapan dan pelaksanaan musim tanam 2004/2005; mengurangi penganguran dan kemiskinan; merumuskan kebijakan kelembagaan dan keuangan untuk pertanian dan pedesaan; merumuskan kebijakan infrastruktur pertanian; menangani impor ilegal dan pemalsuan sarana produksi pertanian; serta merumuskan kebijakan perdagangan internasional."Dari kedelapan itu yang terlaksana cukup baik hanya yang kedua dan ketiga, keenam program lainnya terlalu sulit untuk dievaluasi. Selain lebih bernuansa strategis jangka menengah-panjang, juga sampai saat ini belum ada tanda-tanda kemajuan kinerja yang diumumkan dan dapat diakses oleh masyarakat luas," urainya.Menurut Noer, pernyataan bahwa pembangunan akan dilaksanakan dengan memprioritaskan dan menjadikan pertanian sebagai basis belum ditindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret dan strategis."Kontroversi seputar pencabutan subsidi pupuk ZA dan SP-36 yang hanya sekitar Rp 309 miliar adalah salah satu catatan tentang kurangnya keberpihakan pemerintah dengan petani," katanya.Sedangkan penanganan lelang gula impor ilegal, Noer melanjutkan, merupakan gambaran buruknya kinerja sektor pertanian. "Indikasi ketidakterbukaan pada penetapan pemenang lelang ini adalah potret nyata dari buruknya kinerja dan kewibawaan kebijakan sektor pertanian," tambahnya.
(ast/)











































