Jelang Pertemuan G7
Cina Sang Superstar
Rabu, 02 Feb 2005 12:00 WIB
Jakarta - Menjelang pertemuan negara-negara industri yang tergabung dalam G7, semua mata saat ini tertuju pada Cina diundang sebagai 'tamu istimewa'. Dalam pertemuan itu diperkirakan semua negara G7 akan kembali menyerukan desakan agar Cina melonggarkan patokan mata uangnya. Cina pada masa ini telah hadir dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa. Diperkirakan dalam dua dekade ke depan, perekonomian Cina akan tumbuh dengan pesat dan mengalahkan Japang, Uni Eropa dan AS. Tahun 2004 lalu, bahkan Cina mencatat pertumbuhan ekonomi hingga 9,5 persen atau melebihi perkiraan sebesar 9,3 persen. Bandingkan dengan Indonesia yang harus terseok-seok memperoleh pertumbuhan 4,8 persen pada tahun lalu. Negara dengan penduduk terbanyak ini bahkan secara rata-rata mencatat pertumbuhan 9,4 persen dari tahun 1979 hingga 2003. Angka yang fantastis ini mampu mengangkat sekitar 400 juta orang Cina dari kemiskinan. Pemerintah Cina sendiri sempat mengkhawatirkan angka pertumbuhan yang fantastis itu akan menyebabkan bahaya kepanasan. Tahun lalu bahkan pemerintah Cina harus mencanangkan untuk memperlambat perekonomian guna menghindari bahaya kepanasan itu. "Cina telah menjadi lebih kuat dan posisinya di dunia terus menanjak," kata Li Ruoyu, ekonom dari Pusat Informasi Negara, yang merupakan lembaga think-thank pemerintah Cina seperti dilansir AFP, Rabu (2/2/2005)."Dunia saat ini fokus pada bagaimana pertumbuhan ekonomi Cina dapat berkesinambungan, apakah itu akan menjadi pertumbuhan dengan kualitas yang bagus ataukah ekonomi itu akan beralih menjadi krisis," kata Li Ruoyu.Sementara negara-negara G7 diperkirakan akan menyerukan soal fleksibilitas Yuan kembali dalam pertemuan yang akan berlangsung 4-5 Februari mendatang di London. Wakil Menteri Keuangan AS John Taylor dalam briefing sebelum pertemuan seperti dilansir Reuters menyatakan, setiap negara sebaiknya membiarkan pasar menggerakkan sendiri nilai tukarnya. Taylor menyatakan, para pemimpin keuangan negara G7 telah menyepakati sejumlah prinsip setahun lalu dalam pertamuan di Boca Raton, Florida. "Salahs atu kesepakatannya adalah biarkan masalah fundamental beroperasi di pasar uang. Pernyataan itu sudah disepakati sebelumnya dan G7 ingin melanjutkannya," kata Taylor. Namun Cina nampaknya tidak akan menggubris seruan itu. Deputi Bank Sentral Cina, Li Ruogu yang menghadiri Forum Ekonomi Dunia sebelumnya menyatakan, Cina tidak akan terburu-buru dalam mereformasi pematokan mata uangnya. Li menjelaskan, tahapan reformasi mata uangnya akan datang pada akhirnya. Namun dunia harus menunggu Cina melakukanya sendiri secara gradual. "Ketidakseimbangan ekonomi dunia diakibatkan oleh banyak hal, namun tidak oleh nilai tukar. Cina tidak memiliki memiliki kapasitas untuk menjawab apa yang disebut sebagai ketidakseimbangan. Kami tidak akan melakukan itu, dan kami tidak akan dapat melakukannya," kata Li Ruogu.Sejumlah analis dunia juga meyakini bahwa Cina tidak akan begitu saja mengendurkan pematokan mata uangnya Yuan usai pertemuan G7. "Jika masa lalu menjadi patokan, Cina tidak akan menyesuaikan mata uangnya tepat setelah selesainya pertemuan G7. Hal itu akan menunjukkan bahwa ekonomi Cina bisa didikte oleh opini internasional," kata Wang Zhao, ekonom dari Development Research Institute yang merupakan sebuah lembaga Think-thank pemerintah Cina seperti dilansir AFP.Cina sendiri rencananya akan mengirimkan 2 pejabat tingginya ke pertemuan G7. Namun mereka hanya akan menghadiri pembicaraan kecil yang penting saja.
(qom/)











































