Uang Minyak Irak Hilang
Rabu, 02 Feb 2005 13:08 WIB
Jakarta - Sekitar hampir US$ 9 miliar uang hasil dari penjualan minyak Irak telah raib. Padahal dana itu dihimpun untuk membangun kembali negara itu. Berbagai spekulasi bermunculan, termasuk dana itu telah digunakan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan Amerika SerikatSebuah acara File On 4 yang ditayangkan BBC, menginformasikan dari sekitar US$ 20 miliar dolar yang dihasilkan dari pendapatan minyak selama masa pemerintahan yang dikendalikan Amerika, penggunaan sekitar US$ 8,8 miliar tidak jelas.Tim audit pemerintah mengecam Otorita Sementara Koalisi, CPA, karena lalai mengelola uang secara tepat. Dalam salah satu kasus, auditor mengatakan, kunci brankas yang menyimpan jutaan dolar disimpan dalam sebuah ransel terbuka di sebuah kantor.Dana sebesar US$ 8,8 miliar yang hilang itu mencapai lebih dari 40 persen dari pendapat minyak Irak. "Kendali internal tidak memadai untuk bisa menjamin uang itu dibelanjakan untuk kepentingan warga Irak, sebagaimana diamanatkan resolusi Dewan Keamanan PBB," kata kepala staf audit, Ginger Cruz."Kita katakan, karena CPA berkuasa, dan memang bertangggungjawab sebagai penjaga uang tersebut, diharapkan ada pengawasan yang lebih baik terhadap dana tersebut," kata Cruz.Bahkan, meski terjadi kekacauan pasca perang, auditor tetap berkeyakinan pengelolaan uang itu seharusnya jauh lebih ketat. Laporan auditor tahun sebelumnya mengungkapkan bukti kecerobohan besar-besaran dengan dana besar tersebut.Dalam salah satu kasus, dana US$ 1,4 miliar, yang diperkirakan berbobot 14 ton, dialihkan ke sebuah bank dengan helikopter, namun tidak selembar kuitansi setor pun diterima. CPA juga dikecam karena lalai mencegah penggelapan yang meluas.Sebuah perusahaan Amerika dituduh menggelembungkan keuntungannya secara besar-besar dengan membentuk perusahaan fikit, dan mengirim faktur palsu, yang dibayar oleh koalisi. Perusahaan lain dituduh menuntut pembayar komisi yang tidak jelas, dan kemudian dibayar dengan dana milik Irak.Sejumlah pejabat Koalisi dilaporkan secara terang-terangan menuntut suap tunai hingga US$ 300 ribu.Reporter File On 4 Gerry Northam mengatakan, banyak warga Irak marah dengan cara Koalisi menangani dana mereka, khususnya uang yang diperoleh dari minyak, dan terlebih-lebih jumlah uang yang sangat besar akhirnya jatuh ke tangan pengusaha asing.Claude Hankes-Drielsma, mantan penasihat Dewan Pemerintah Irak, yang bekerjasama dengan Pemerintahan Koalisi, mengatakan kurangnya pengendalian dana juga merupakan pukulan bagi Amerika Serikat."Ini sangat disesalkan, mengingat pembebasan Irak merupakan prestasi besar. Ini juga diakui oleh warga Irak, namun cara penanganan perkembangan setelah itu merupakan petaka," tandasnya.Menanggapi laporan ini, mantan kepala koalisi, Duta Besar Paul Bremer, mengatakan, auditor tidak memahami konteks operasi Otorita. Standar akuntansi Barat tidak bisa diterapkan di tengah peperangan, lanjut Bremer.
(mar/)











































