"Pembicaraan terakhir. Pak JK (Jusuf Kalla) menyetujui karena adanya grant (hibah) dari Korea, itu untuk melengkapi data dari fase B (reklamasi) dan fase C (tahap akhir tanggul garuda)," kata Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono di lokasi penanganan banjir di Kamal, Jakarta Barat, Rabu (18/2/2015)
Basuki mengatakan untuk tahap awal Korsel akan bantu software untuk mendesain giant sea wall secara detil. Untuk selanjutnya kemungkinan akan memberikan bantuan pendanaan proyek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Basuki mengatakan fase C proyek ini yaitu pembangunan pulau-pulau buatan berbentuk burung Garuda selama ini belum didesain secara detil, karena masih data-data awal seperti desain, studi kelayakan, AMDAL yang belum dikembangkan.
"Nah ini dengan adanya keterlibatan Korea ini maka kita bisa mulai melengkapi yang lebih konkret lagi," katanya.
Basuki menegaskan dengan keterlibatan Korsel yang sudah berpengalaman membangun tanggul laut, maka proyek giant sea wall yang selama ini 'menggantung' dipastikan dilanjutkan.
"Iya. Makanya itu. Saya sekarang berani ngomong gitu," kata Basuki saat ditanya apakah giant sea wall akan dilanjutkan.
Terkait proyek ini, kementeriannya tahun ini menganggarkan sekitar Rp 150 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk membangunan peninggian tanggul pesisir pantai sepanjang 38 km atau fase A. Terkait pembangunan tanggul fase A, pihak PUPR bekerjasama dengan Pemda DKI Jakarta.
"Ya sekitar 2 tahun tahap A selesai," katanya.
Saat ini, Negeri Ginseng memiliki 'dinding laut' raksasa terpanjang di dunia, dengan panjang 33 km yang lokasinya di barat daya Seoul. Infrastruktur ini menghubungkan dua daratan utama di Korsel, dengan nama Saemangeum.
Pemerintah Korsel telah menghabiskan 2,9 triliun won (US$ 2,6 miliar). Proyek ini dirancang sejak 1970-an, dan mulai dibangun 1991, akhirnya selesai pada 2010.
Pembangunan tanggul raksasa di utara Jakarta dibuat dalam 3 tahap:
1. Tahap A, yaitu penguatan garis pantai Jakarta sudah dimulai pada tahun 2014. Rencananya dilakukan hingga 2018 atau 4 tahun ke depan. Pada fase ini mencakup penguatan tanggul dan pemasangan stasiun pompa. Total investasinya mencapai US$ 1,9 miliar
2. Tahap B, pembangunan tanggul laut luar dan reklamasi laut (pulau buatan) seluas 1.250 hektar hingga 4.000 hektar pada periode 2018-2022. Pada fase ini juga akan dikembangkan jalan tol dari Tangerang dan Bekasi. Termasuk pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dari pusat kota ke Jakarta.
Pada fase ini, selain pembangunan tanggul laut luar, juga ada pembangunan stasiun pompa, pintu air, pemindahan jaringan pipa, restorasi hutan bakau dengan perkiraan biaya US$ 4,8 miliar.
3. Tahap C, ini merupakan fase pembangunan tanggul luar di sisi timur Jakarta, namun sampai saat ini belum bisa ditentukan apakah tanggul laut di sisi luar bagian timut diperlukan. Alasannya penurunan muka tanah di kawasan timur masih relatif lambat dan sungai-sungai utama masih mengalir bebas.
Konsep tanggul laut 'Garuda Raksasa' di perairan Teluk Jakarta dianggap sebagai opsi terbaik untuk mencegah Jakarta Utara tenggelam di 2050. Konsep ini banyak punya manfaat seperti adanya tanggul dan waduk raksasa di Teluk Jakarta.
Diperkirakan butuh anggaran hingga Rp 500 triliun (pemerintah dan swasta) untuk menyelesaikan proyek ini secepatnya pada 2022 atau paling lambat 2030.
(hen/hds)










































