Tahun 2004, Pendapatan Garuda Naik 22,3 Persen
Rabu, 02 Feb 2005 15:40 WIB
Jakarta - PT Garuda Indonesia Airlines memperkirakan pada tahun 2004 ini memperoleh pendapatan operasi Rp 10,111 triliun atau naik 22,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 8,27 triliun. Demikian Dirut PT Garuda Indra Setiawan dalam RDP dengan Komisi V DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/2/2005).Menurut Indra, biaya operasi pada tahun 2004 diperkirakan mencapai Rp 9,690 triliun atau naik 17,2 persen dibanding tahun 2003 yang sebesar Rp 8,27 triliun sehingga ada laba operasi sekitar Rp 420,9 miliar. Namun catatan, laporan keuangan ini belum diaudit."Untuk rugi/laba PT Garuda secara keseluruhan belum bisa diungkapkan saat ini karena saya masih lapor ke pemegang saham. Apalagi saat ini masih terus dihitung dampak dari naiknya harga minyak dunia," kata Indra.Indra menambahkan, sepanjang tahun 2004, manajemen telah berhasil mempertahankan cash flow pada posisi yang aman, dimana per Desember 2004 saldo kas akhir mencapai US$ 123,47 juta. Sementara untuk tahun 2005, Garuda memproyeksikan memperoleh pendapatan operasi sebesar Rp 11,823 triliun dengan biaya operasi sebesar Rp 11,633 triliun sehingga ada laba operasi sekitar Rp 190,2 miliar. Adapun cash flow hingga akhir Desember 2005 diharapkan akan berada di kisaran US$ 113,952 juta. Indra juga menegaskan, dampak kenaikan BBM pada tahun 2005 dipastikan akan cukup mempengaruhi kinerja perusahaan karena komponen biaya Garuda 20-22 persen berasal dari biaya pengadaan BBM. Oleh karenanya manajemen terus mengupayakan pendekatan kepada suplier BBM baik dari luar maupun dalam negeri untuk memberikan diskon karena kebutuhan Garuda sangat besar. Berkaitan dengan isu pergantian direksi Garuda, Indra menyatakan dirinya siap untuk diganti sewaktu-waktu. "Isu itu sudah ada sejak 1,5 tahun lalu. Kalau soal jabatan, jangan tanya saya. Saya ini kan hanya seperti wayang, kapan dimasukkan kotak dan kapan dikeluarkan. Selama saya masih dipercaya, saya akan bekerja sampai titik darah penghabisan. Jabatan itu kan amanah. Misalnya hari ini saya lantik, besok saya harus siap untuk diganti," demikian Indra.
(qom/)











































