Gobel mengungkapkan praktik pengoplosan beras Bulog baru-baru ini ditemukan di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Sehingga, Gobel meminta Dirut Perum Bulog Lenny Sugihat menghentikan penyaluran beras Bulog ke pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur mulai Februari 2015.
"Waktu itu kita mendapatkan 1 gudang di sana (gudang di Cakung) penuh dengan beras Bulog. Di sana ada mesin dan beras dibuat merek dagang dia sendiri. Jadi ini dioplos dan dijual wajar saya bilang ada keanehan," kata Gobel yang mengenakan baju kemeja biru saat di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (20/02/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu saya minta Dirut Bulog dievaluasi semua," imbuhnya.
Sementara itu, Dirut Bulog Lenny Sugihat mengungkapkan sejak Desember 2014 hingga Januari 2015 pihaknya telah menggelontorkan 75.000 ton beras untuk operasi pasar (OP) beras murah di DKI Jakarta.
Menurut Lenny masyarakat dan pedagang cukup menebus harga beras Bulog Rp 7.400/kg. Sayangnya di lapangan, Lenny tidak pernah mendapatkan harga beras Rp 7.400/kg.
"Di DKI ini 2 bulan terakhir yaitu Desember-Januari kita keluarkan lebih dari 75.000 ton untuk OP. Seharusnya harga beras tidak naik. Harga beras di gudang Rp 6.800 ditambah Rp 600 jadi Rp 7.400/kg (harga tebus). Harusnya harga tidak naik berlipat-lipat, tetapi sekarang tidak ada harga beras Rp 7.400/kg," sindir Lenny.
Bulog selama ini memiliki 3 sistem pendistribusian beras operasi pasar, pertama beras didistribusikan ke Food Station seperti di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur atau yang selama ini rutin dilakukan Bulog. Kedua adalah beras didistribusikan langsung ke PD Pasar Jaya. Ketiga melalui Satgas yang mendistribusikan langsung beras ke pasar.
Namun adanya kasus beras Bulog yang dioplos, distribusi OP beras ke pedagang besar dihentikan. Kebijakan ini sempat dikeluhkan oleh pedagan beras di Pasar Cipinang. Seorang pedagang beras di Cipinang bernama Hilyas, mengatakan sebelumnya Bulog selalu rutin mengucurkan beras operasi pasar setiap 2 hari kepada pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, bila ada gangguan pasokan.
"Kalau dulu 2 hari sekali kami diberikan jatah 5 ton per pedagang dengan harga tebus Rp 7.100/kg. Kalau sekarang kami hitung 5 ton per pedagang per bulan," imbuh Hilyas seorang pedagang beras di Cipinang.
(wij/hen)











































