Lonjakan harga beras khususnya di Jakarta sudah terjadi sejak awal Februari 2015. Setidaknya ada 4 faktor yang menyebabkan harga beras melonjak, termasuk faktor kartel pedagang beras oleh para mafia.
Pengamat Pertanian dari Universitas Negeri Lampung (Unila) Bustanul Arifin mengungkapkan penyebab harga beras di DKI Jakarta bisa melonjak hingga 30%.
"Saat musim paceklik biasanya harga beras naik 10%-15% masih oke. Tetapi kalau naik 30% ada sesuatu yang harus dipecahkan oleh pemerintah," kata Bustanul saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Senin (23/02/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bustanul mengatakan panen baru akan terjadi pada periode Maret hingga Juni 2015. Ia mengungkapkan stok beras Bulog cukup sehingga tidak perlu impor.
"Panen terlambat karena musim tanam terlambat. Tahun 2014 musim paling panas. Apakah harus impor? Saya berpikir tidak harus karena dikhawatirkan impor itu justru nanti pada saat musim panen harga gabah terpuruk," kata Bustanul.
Ia menegaskan bila pemerintah membuka keran impor beras, maka realisasi impor baru akan terjadi pada bulan Maret hingga Juni 2015. Artinya realisasi impor bertepatan saat musim panen raya.
"Kementan telah melarang kita mengimpor beras 1-2 bulan setelah dan sebelum hari raya," imbuhnya.
Kedua, soal operasi pasar (OP) yang dilakukan Perum Bulog sebelumnya masih satu pintu oleh para pedagang besar seperti ke Pasar Induk Cipinang, namun cara ini tak efektif meredam harga beras, justru muncul praktik pengoplosan. Kemudian mulai Februari Perum Bulog langsung melakukan OP ke masyarakat tanpa melalui pedagang, dampaknya harga beras justru melonjak.
Bustanul menyarankan agar pemerintah tetap menyalurkan beras ke pedagang dengan catatan melalui prosedur ketat agar praktik penyelundupan beras Bulog tidak ada penyimpangan.
"Itu menjadi salah satu pemicu. Karena yang diinginkan pedagang itu beras curah, kalau disetop ikut mempengaruhi stok. Saya sarankan beras Bulog tetap disalurkan ke pasar dan pedagang asal syaratnya diperketat," katanya.
Ketiga, Bulog tidak membagikan beras untuk masyarakat miskin (raskin) pada periode November-Desember 2014. Hal ini tentunya berpengaruh kepada permintaan beras yang melonjak signifikan dan mengurangi stok beras di Bulog.
"Dugaan lainnya adalah masalah raskin. Raskin di bulan November-Desember tidak disalurkan. Januari ada tetapi ambil stok untuk OP," paparnya.
Keempat, Bustanul menduga ada permain di dalam perdagangan beras seperti yang disampaikan oleh Mendag Rachmat Gobel soal praktik mafia beras. Ia meminta pelakunya diusut dan dikenakan sanksi pidana.
"Langsung proses hukum saja. Saya memang belum lihat di lapangan. Namun fenomenanya lebih banyak kekurangan pasokan. Apakah ada yang bermain, pemerintah harus turun tangan," tegasnya.
(wij/hen)











































