Lonjakan harga beras di Jakarta hingga 30% memicu banyak dugaan soal praktik mafia beras. Namun bagi pedagang beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur, kenaikan harga beras karena pasokan yang berkurang dari sentra produksi.
Seorang pedagang beras di Cipinang yang tak mau disebutkan namanya mengatakan banyak faktor yang membuat harga beras naik khususnya di Jakarta. Sehingga solusinya adalah mengembalikan kebijakan sebelumnya, yaitu dengan kembali melepas beras ke para pedagang dengan Operasi Pasar (OP) di Pasar Cipinang.
"Kalau Bulog kembali lepas beras OP 1.000 ton per hari di Pasar Cipinang, kalau dua pekan sudah 15.000 ton. Ini akan membuat harga beras bisa turun dalam 2 minggu," kata pedagang tersebut kepada detikFinance, Senin (23/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau menurut hemat saya nggak usah banyak OP di Cipinang, yang penting diawasi," katanya.
Ia mengatakan selain melakukan OP di Pasar Cipinang, OP juga harus tetap dilakukan di pasar-pasar tradisional dan konsumen langsung di kawasan pemukiman oleh Perum Bulog.
Namun bila hanya mengandalkan OP di pasar-pasar tradional kurang efektif karena setiap pasar per hari hanya mampu menyerap 3,3 ton untuk 200 pasar hanya 660 ton per hari. Ia optimistis bila Bulog kembali 'mengguyur' beras di Pasar Cipinang secara ketat maka, harga beras bisa segera turun.
"Penyebab harga naik karena kekurangan suplai, di Jakarta itu kebutuhan per hari 3.000 ton, sekarang hanya 1.000-1.500 ton per hari di Pasar Cipinang, stok yang ada kekurangan sambil menunggu panen raya, jadi harga melambung," katanya.
Sebagai pedagang, ia mengatahui saat ini stok beras di Bulog sudah menipis karena tak ada impor beras, lalu kebutuhan beras tinggi di awal tahun karena kebijakan beras miskin (raskin) yang sempat akan dihentikan oleh pemerintah.
"Stok beras sekarang sangat tipis di Bulog," katanya.
Sebelumnya Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel menganggap kenaikan harga beras di Jakarta dipicu dari motif bisnis para mafia beras. Menurut Gobel para mafia ini memainkan harga beras agar pemerintah terpaksa membuka keran impor sehingga ada peluang keuntungan.
"Kita sedang membangun kedaulatan pangan. Kemarin masih ada juga yang memainkan cerita, naik sekian puluh persen dengan tujuan supaya impor masuk. Dengan demikian masih banyak cerita-cerita ini yang sebetulnya ini harus kita cermati bersama-sama," papar Gobel di kantornya hari ini.
(hen/hen)











































