Indonesia punya peluang besar menjadi salah satu produsen daging sapi terbesar di dunia. Kuncinya adalah memperbesar populasi sapi dan meningkatkan bobot sapi per ekor. Bagaimana caranya?
"Kita bisa memanfaatkan perkebunan sawit untuk areal peternakan. Jadi proses penggemukan bisa seperti di Australia dengan sapi dilepas ke ladang rumput. Cuma di sini sapinya makan daun kelapa sawit," ujar Peneliti Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Kementerian Pertanian Kusuma Dwiyanto di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (25/2/2015).
Metode ini sebenarnya bukan metode yang baru karena sudah diterapkan oleh PTPN VI (Persero) dengan melepas sapi-sapi di kebun sawit. Hasilnya pun cukup memuaskan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayang, upaya ini belum dijalankan optimal. Hingga 2013, baru 5 dari 1.500 perusahaan sawit yang telah melaksanakan integrasi sapi-sawit ini.
Untuk itu, perlu ada dorongan dari pemerintah agar kegiatan ini bisa diterapkan oleh lebih banyak perusahaan perkebunan sawit. Ia mengaku, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) sebagai organisasi kepakaran juga akan membantu pemerintah mencari formula yang tepat agar hal ini bisa menarik diterapkan oleh para pengusaha sawit.
"Pendekatannya harus bisnis. Misalnya dibantu permodalan dan sebagainya. Kemudian jangan impor (daging sapi) berlebihan supaya mereka nggak khawatir produk mereka nggak diserap pasar," tegasnya.
Bila berhasil diterapkan oleh lebih banyak perusahaan sawit, kata Kusuma, maka permasalahan lahan yang sering dikemukakan sebagai kendala kegiatan peternakan untuk meningkatkan populasi ternak bisa diatasi. Hingga 2014, diperkirakan luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai 10-11 juta hektar.
Selain itu, dengan sinergi ini pula diharapkan sapi-sapi yang diternak bisa mengalami peningkatan bobot yang lebih baik. Dengan demikian, produksi daging sapi juga bisa meningkat.
"Ternak kita rata-rata bobotnya sekitar 200-250 kg. Kalau sapi lokal yang bukan asli sekitar 300 kg. Kalau sapi silangan IB 400-450 kg. Dengan sinergi ini, bobot masing bisa ditingkatkan 20-30%," papar Kusuma.
(dna/hds)











































